Abuumarfauzy's Blog

Just another WordPress.com weblog

IBADAH HAJI Perwujudan Tauhid kepada Allah dan Ukhuwwah Sesama Hamba

Al-‘Allamah Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah

Segala puji khusus bagi Allah yang telah menjadikan Ka’bah sebagai  tempat berkumpul bagi umat manusia dan tempat yang aman, serta menjadikannya penuh barakah dan sebagai hidayah bagi alam semesta. Allah memerintahkan hamba dan rasul-Nya sekaligus khalil-Nya Ibrahim imamnya para hunafa’ (ahlut tauhid), ayah para nabi setelahnya, untuk mengarahkan dan mengumumkan kepada manusia dengan ibadah haji, setelah beliau menyiapkan Ka’bah tersebut agar manusia mendatanginya dari segenap penjuru dan lembah, sehingga mereka bisa menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka, dan mengingat Allah pada hari-hari yang telah  ditentukan. [1]

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia adalah ilahnya orang-orang terdahulu maupun kemudian. Dzat yang telah mengutus para rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya dalam rangka menegakkan hujjah dan menjelaskan bahwa Allah Dialah Dzat Yang Maha Tunggal dan Esa, Yang berhak untuk diibadahi, yang berhak untuk para hamba bersatu dalam ketaatan kepada-Nya, mengikuti syari’at-Nya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengan syari’at-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, sekaligus sebagai khalil-Nya yang Allah utus sebagai rahmat bagi alam semesta dan hujjah atas segenap hamba-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa hidayah dan agama yang benar, agar Allah menangkan atas segenap agama. Allah perintahkan untuk menyampaikan kepada umat manusia cara-cara manasik, maka beliau pun melaksanakan perintah tersebut baik dalam bentuk ucapan maupun amalan/praktek langsung. Semoga shalat dan salam tercurahkan kepada beliau dari Rabbnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksankana haji, yaitu pada haji wada’, yang di situ beliau menyampaikan cara-cara manasik kepada umat manusia, secara ucapan maupun amalan/praktek langsung. Beliau bersabda kepada umat manusia :

« خذوا عني مناسككم فلعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا »

Ambillah  dariku cara manasik haji kalian. bisa jadi aku tidak bertemu kalian lagi setelah tahun ini. HR. An-Nasa`i 3062

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umat manusia segala yang diamalkan dan diucapkan dalam ibadah haji, serta seluruh manasik haji, dengan sabda dan perbuatan-perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad sampai ajal menjemput beliau.

Kemudian para khalifah ar-rasyidin dan para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum berjalan di atas manhaj (metode dan jalan) beliau yang lurus, dan menjelaskan kepada umat manusia risalah yang agung ini dengan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan, serta mereka menukilkan segala sabda dan perbuatan-perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia dengan penuh amanah dan kejujuran. Radhiyallahu ‘anhum.

Di antara tujuan terbesar dari ibadah haji adalah menyatukan barisan kaum muslimin di atas al-haq dan membimbingnya mereka kepada al-haq, agar mereka istiqamah di atas agama Allah, beribadah hanya kepada Allah satu-satu-Nya, dan tunduk patuh terhadap syari’at-Nya.

Wahai saudara-saudaraku di jalan Allah

Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala telah mensyari’atkan ibadah haji kepada hamba-hamba-Nya, dan menjadikannya sebagai rukun Islam yang kelima, karena adanya hikmah yang banyak dan rahasia yang agung, di samping manfaat yang tak terhitung.

Allah Jalla wa ‘Ala telah menunjukkan hal itu dalam kitab-Nya yang agung ketika Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ * فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ *

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, adalah Baitullah yang di Bakkah (Makah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali ‘Imran : 95-97)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Baitullah (Ka’bah) adalah rumah pertama yang dibangun untuk umat manusia, yakni di muka bumi, untuk ibadah dan bertaqarrub kepada Allah dengan amalan-amalan yang diridhai-Nya. Sebagaimana telah sah dalam Ash-Shahihain dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu dia berkata :

“Aku bertanya, wahai Rasulullah, beritakan kepadaku tentang masjid pertama yang dibangun di muka bumi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Al-Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi, “Kemudian masjid mana lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Al-Masjidil Aqsha.” Aku lalu bertanya lagi, “Berapa lama jarak antara keduanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “40 tahun,” Aku bertanya, “Kemudian mana lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kemudian di mana pun waktu shalat tiba, maka shalatlah di situ, karena itu adalah masjid.” (HR. Al-Bukhari 3186, Muslim 520)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa rumah pertama yang dibangun untuk umat manusia adalah Al-Masjidil Haram, yaitu rumah yang dibangun untuk ibadah dan bertaqarrub kepada Allah, sebagaimana dijelaskan oleh para ‘ulama. Sebelumnya sudah ada rumah-rumah untuk dihuni/tempat tinggal, namun yang dimaksud di sini adalah rumah pertama yang dibangun untuk ibadah, ketaatan, dan taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ucapan dan amalan yang diridhai-Nya.

Kemudian setelah itu adalah Al-Masjidil Aqsha yang dibangun oleh cucu Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimush shalatu was salam. Kemudian diperbarui lagi pada akhir zaman setelah itu dengan jarak/jeda waktu yang sangat lama oleh Nabi Sulaiman ‘alaihish shalatu was salam.

Lalu setelah itu seluruh permukaan bumi adalah masjid. Kemudian datanglah Masjid Nabawi, yang itu merupakan masjid ketiga pada akhir zaman yang dibangun oleh Nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad ‘alaihish shalatu was salam. Beliau membangunnya setelah berhijrah ke Madinah, beliau membangunnya bersama-sama para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Beliau memberitakan bahwa Masjid Nabawi tersebut merupakan masjid paling utama (afdhal) setelah Al-Masjidil Haram.

Jadi masjid yang paling utama ada tiga. Yang terbesar dan paling utama adalah Al-Masjidil Haram, kemudian Masjid Nabawi, dan Al-Masjidil Aqsha.

Shalat di ketiga masjid tersebut dilipatgandakan pahalanya. Terdapat dalam hadits yang shahih :

« أنها في المسجد الحرام بمائة ألف صلاة »

Shalat di Al-Masjidil Haram sama dengan 100.000 (seratus ribu) kali shalat. (HR. Ibnu Majah 1413)

Tentang Masjid Nabawi :

« الصلاة في مسجده خير من ألف صلاة فيما سواه ,  إلا المسجد الحرام »

Shalat di masjidku lebih baik daripada 1000 (seribu) kali shalat di selainnya, kecuali di al-masjidil haram.. HR. Al-Bukhari 1133, Muslim 1394

Dan tentang Al-Masjidil Aqsha :

« أنها بخمسمائة صلاة »

Sebanding dengan 500 kali shalat.

Jadi tiga masjid tersebut merupakan masjid yang agung dan utama, itu merupakan masjidnya para nabi ‘alahimush shalatu was salam.

Allah Jalla wa ‘Ala mensyari’atkan ibadah haji kepada hamba-hamba-Nya karena padanya terdapat kemashlahatan yang sangat besar. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa haji itu wajib atas para hamba yang mukallaf dan mampu menempuh perjalanan kepadanya.  Sebagaimana telah ditunjukkan oleh Al-Qur`an dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Atas manusia terdapat kewajiban haji untuk Allah semata, barangsiapa yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. (Al-‘Imran : 97)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah  di hadapan umat manusia :

« أيها الناس إن الله كتب عليكم الحج فحجوا . فقيل : يا رسول الله أفي كل عام ؟ فقال : الحج مرة فمن زاد فهو تطوع »

Wahai umat manusia, sesungguhnya Allah telah menuliskan kewajiban haji atas kalian. maka berhajilah kalian! Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah apakah setiap tahun (kewajiban tersebut)?” Nabi menjawab, “(Kewajiban) haji sekali saja. Barangsiapa yang menambah (berhaji lagi) maka itu sunnah.” (HR. Muslim 1337)

Jadi kewajiban haji hanya sekali seumur hidup. Adapun selebihnya maka itu sunnah. Kewajiban ini berlaku kepada kaum pria maupun kaum wanita, yang mukallaf dan mampu melakukan perjalanan ke Baitullah.

Adapun setelah itu, maka itu merupakan ibadah sunnah dan taqarrub yang agung. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

« العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة »

‘Umrah ke ‘umrah berikut merupakan penebus dosa (yang terjadi) antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali al-jannah. (HR. Al-Bukhari 1683, Muslim 1349)

Keutamaan ini berlaku pada ‘umrah dan haji yang wajib maupun yang sunnah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

« من أتى هذا البيت فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه »

Barangsiapa yang mendatangi Baitullah  ini, tidak berbuat rafats dan fasiq, ia akan kembali (ke negerinya) seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR. Muslim 1350)

Dalam riwayat lain dengan lafazh :

« من حج هذا البيت فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه »

Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah ini, tidak tidak berbuat rafats dan fasiq, ia akan kembali (ke negerinya) seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR. Al-Bukhari 1324)

Hadits ini menujukkan atas keutamaan yang besar bagi ibadah haji dan ‘umrah, bahwa ‘umrah ke ‘umrah berikutnya merupakan penebus dosa (yang terjadi) antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali al-jannah.

Maka sangat ditekankan bagi orang-orang yang beriman, untuk bersegera melaksanakan haji ke Baitullah, dan segera menunaian kewajiban besar ini di manapun mereka berada apabila telah mampu menempuh perjalanan menuju Baitullah. Adapun pelaksanaan haji setelahnya, maka itu adalah ibadah sunnah, bukan ibadah wajib. Namun tetap padanya terdapat keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dalam hadits shahih  :

« قيل : يا رسول الله أي العمل أفضل ؟ قال : إيمان بالله ورسوله ، قيل : ثم أي ؟ قال : الجهاد في سبيل الله ، قيل : ثم أي ؟ قال : حج مبرور »

Ada shahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah amalan apakah yang paling utama?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian bertanya lagi, “Kemudian amalan apa lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” Kemudian bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.” (HR. Al-Bukhari 26, Muslim 83)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan haji wada’, beliau mensyari’atkan untuk umat manusia cara-cara manasik haji dengan sabda dan perbuatan beliau. Dalam haji wada’ tersebut, beliau berkhuthbah pada hari ‘Arafah dengan khuthbah yang agung,  di dalamnya beliau mengingatkan umat manusia terhadap hak-hak Allah dan tauhid kepada-Nya, beliau memberitakan kepada umat bahwa perkara-perkara jahiliyyah telah dimusnahkan, riba telah dibasmi, demikian juga darah-darah jahiliyyah sudah dihilangkan. Dalam kesempatan tersebut beliau juga mewasiatkan kepada umat dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah serta untuk berpegang teguh dengan keduanya, mereka tidak akan tersesat selama mereka mau berpegang teguh terhadap keduanya. Beliau juga menjelaskan hak-hak suami terhadap istri dan hak-hak istri terhadap suami, serta beliau menjelaskan berbagai masalah yang sangat banyak, ‘alahi afdhalush shalatu was salam. Kemudian beliau bersabda :

« وأنتم تسألون عني فما أنت قائلون ؟ قالوا : نشهد أنك قد بلغت وأديت ونصحت ، فجعل يرفع أصبعه إلى السماء ثم ينكبها إلى الأرض ويقول : اللهم اشهد اللهم اشهد »

Kalian bertanya tentang aku, apa yang kalian katakan? Para shahabat bekata : “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, melaksanakan, dan berbuat terbaik.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat jarinya ke arah langit kemudian mengarahkannya ke bumi seraya beliau berkata, “Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah.” (HR. Muslim 1218)

Tidak diragukan bahwa beliau telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya. Kita mempersaksikan demikian terhadap beliau, sebagaimana para shahabat beliau telah mempersaksikannya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan cara-cara manasik haji dengan sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau. Beliau keluar (berangkat) dari Madinah pada akhir bulan Dzulqa’dah tahun ke-10, beliau berihram haji qiran (yaitu memadukan antara haji dan ‘umrah secara bersamaan) dari Dzulhulaifah, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyiapkan hewan sembelihannya. Beliau tiba di Makkah pada waktu Shubuh hari ke-4 bulan Dzulhijjah. Beliau terus mengucapkan talbiyah semenjak dari miqat Dzulhilaifah setelah beliau berihram, dengan mengucapkan kalimat talbiyah yang terkenal :

« لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك »

Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu demikian juga kerajaan. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Yaitu setelah beliau bertalbiyah dengan haji dan ‘umrah sekaligus. Dan di Dzulhulaifah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada para shahabatnya dengan tiga jenis manasik haji, (yakni haji qiran, ifrad, atau tamattu’). Di antara mereka ada yang bertalbiyah untuk ‘umrah saja (yakni haji tamattu’), di antara mereka ada yang bertalbiyah untuk ‘umrah dan haji sekaligus (qiran).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan talbiyahnya, demikian juga para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Beliau terus mengumandangkan talbiyyah hingga tiba di Baitullah Al-‘Atiq (yakni Ka’bah). Beliau menjelaskan kepada umat dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang diucapkan dalam thawaf dan sa’i mereka, demikian juga ketika di ‘Arafah, Muzdalifah, dan ketika di Mina. Allah Jalla wa ‘Ala telah menjelaskan hal itu dalam Kitab-Nya yang agung ketika Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ * ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ * فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ * وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ * أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ * وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ *

Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb kalian. Maka apabila kalian telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram (yakni Muzdalifah). Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepada kaliam; dan sesungguhnya kalian sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (’Arafah) [2] dan mohonlah ampun kepada Allah; aesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak/lebih kuat dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah bagi mereka bagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang tertentu (yaitu pada hari-hari Tasyriq : 11,12,13 Dzulhijjah). Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertaqwa. dan bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kalian akan dikumpulkan kepada-Nya. (Al-Baqarah : 198-203)

Dzikir termasuk manfaat-manfaat haji yang tersebut dalam firman Allah Ta’ala :

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.

Penyebutan dzikir setelah penyebutan “berbagai manfaat” merupakan penyebutan sesuatu yang khusus setelah penyebutan sesuatu yang umum.

Diriwayatkan dari Nabi ‘alahish shalatu was salam :

« إنما جعل الطواف بالبيت والسعي بين الصفا والمروة ورمي الجمار لإقامة ذكر الله »

Hanyalah  dijadikan thawaf di Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan dzikrullah. (HR. At-Tirmidzi 902, Abu Dawud 1888, dan Ahmad VI/64)

Nabi mensyari’atkan untuk umat manusia dzikrullah ketika menyembelih sebagaimana tersebut dalam Kitabullah, beliau juga mensyari’atkan untuk umat manusia dzikrullah ketika melempar jumrah. Seluruh praktek manasik adalah bentuk dzikrullah, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Ibadah haji dengan segala praktek dan bacaan-bacaannya semuanya adalah dzikir kepada Allah, semuanya adalah ajakan kepada tauhid, istiqamah di atas agama-Nya, dan kokoh di atas jalan yang dibawa oleh Rasul-Nya Muhammad ‘alahish shalatu  was salam.

Maka tujuan terbesar dari ibadah haji adalah membimbing umat manusia agar bertauhid kepada Allah, dan ikhlash kepada-Nya, serta berittiba (mengikuti) Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam risalah yang beliau bawa berupa kebenaran dan hidayah dalam ibadah haji dan lainnya.

Talbiyah ucapan pertama yang dikumandang oleh seorang yang berhaji dan ber’umrah, yaitu ucapan : Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik la syarika laka labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu).

(dengan kalimat tersebut) seorang yang berhaji/ber’umrah telah mengumumkan tauhidnya terhadap Allah, keikhlasannya karena Allah, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya.

Demikian juga dalam thawaf yang ia lakukan, adalah untuk dzikir kepada Allah, mengagungkan-Nya, dan beribadah hanya kepada-Nya dengan berthawaf.

Kemudian sa’i, dia beribadah  kepada-Nya dengan sa’i, hanya kepada-Nya tanpa selain-Nya. Demikian juga beribadah kepada Allah dengan mencukur rambut atau memendekkannya, demikian juga dengan menyembelih hewan qurban, demikian dengan bacaan-bacaan dzikir yang ia baca di ‘Arafah, di Muzdalifah, dan di Mina semuanya adalah dzikir kepada Allah, tauhid terhadap-Nya, ajakan kepada al-Haq, dan bimbingan bagi para hamba, bahwa wajib atas mereka untuk beribadah hanya Allah semata, bersatu dan saling menolong dalam mewujudkannya, dan wajib bagi mereka untuk saling berwasiat dengan hal tersebut, sedangkan mereka datang dari berbagai berbagai penjuru supaya mereka bisa menyaksikan berbagai manfaat  bagi mereka.

Manfaat-manfaat tersebut sangat banyak, Allah sebutkan pada satu ayat secara global dan Allah rinci pada tempat-tempat lainnya. Di antaranya Thawaf. Itu merupakan ibadah yang besar dan di antara sebab terbesar untuk terhapusnya dosa-dosanya dan dihilangkannya kesalahan-kesalahan. Demikian juga Sa’i, dan rangkaian ibadah yang ada pada keduanya (thawaf dan sa’i) berupa dzikir dan do’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian juga dzikir dan do’a yang ada di ‘Arafah dan Muzdalifah. Demikian juga pada menyembelih kurban terdapat dzikir, takbir, dan pengagungan terhadap Allah. Demikian juga takbir dan pengagungan terhadap Allah yang diucapkan ketika melempar jumrah. Dan semua amalan haji mengingatkan kepada Allah satu-satu-Nya dan mengajak kaum muslimin semuanya agar mereka menjadi jasad yang satu, bangunan yang satu dalam mengikuti kebenaran, teguh di atasnya, berdakwah kepadanya, dan ikhlash  karena Allah dalam seluruh ucapan dan perbuatan. Mereka saling bertemu di bumi penuh barakah ini menginginkan taqarrub dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta ampunan-Nya dan memohon agar dibebaskan dari api neraka.

Tidak diragukan, bahwa hal ini di antara yang bisa menyatukan hati dan mengumpulkannya di atas ketaatan kepada Allah, ikhlash kepadanya, mengikuti  syari’at-Nya, dan mengagungkan perintah dan larangan-Nya.

Oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Makah) yang dibarakahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Ka’bah ini Mubarak (dibarakahi), yaitu dengan apa yang didapat oleh para peziarah dan para haji yang datang kepadanya berupa kebaikan yang sangat besar dari thawaf dan sa’i serta seluruh amalan haji dan ‘umrah yang Allah syari’atkan. Baitullah tersebut Mubarak, di sisinya dihapuskanlah kesalahan-kesalahan, dilipatgandakan kebaikan, dan diangkat derajat. Allah mengangkat derajat para peziarahnya yang ikhlash dan jujur, Allah ampuni dosa-dosa mereka serta Allah masukkan mereka ke Jannah sebagai bentuk keutamaan dari Allah dan kebaikan dari-Nya, apabila mereka ikhlash karena-Nya, istiqamah di atas perintah-Nya, meninggalkan perbuatan rafats dan fasiq.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

« من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه »

Barangsiapa berhaji, tidak berbuat rafats dan fasiq, maka ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.

­ar-rafats adalah melakukan jima’ (bersenggama) dengan istri dan segala hal yang bisa mengantarkan kepadanya baik ucapan maupun perbuatan, sebelum tahallul (selesai berihram/berhaji).

Adapun perbuatan fasiq adalah segala bentuk kemaksiatan baik ucapan maupun perbuatan, wajib atas seorang yang berhaji untuk meninggalkan dan menjauhinya. Demikian juga jidal (berdebat/cekcok) wajib ditinggalkan kecuali dalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Ala :

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَج

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi [3], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.(Al-Baqarah : 197)

Ibadah haji semuanya adalah ajakan untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, ajakan untuk mengagungkan dan mengingat Allah, ajakan untuk meninggalkan kemaksiatan dan kefasikan, ajakan untuk meninggalkan jidal (bantah-bantahan/cekcok) yang menyebabkan kekerasan hati dan permusuhan serta perpecahan antara kaum muslimin. Adapun jidal (berdebat) dengan cara yang lebih baik maka itu diperintahkan dalam semua kondisi dan tempat, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Berdakwahlah ke jalan Rabbmu dengan hikmah, nasehat yang baik, dan berjidal dengan cara yang lebih baik. (An-Nahl : 128)

Ini merupakan cara berdakwah di segala waktu dan tempat, baik di Ka’bah maupun selainnya. Berdakwah kepada saudara-saudaranya dengan hikmah, yaitu ilmu, (katakan) bahwa “Allah telah berfirman demikan, Rasulullah telah bersabda demikian.”

Juga berdakwah dengan mau’izhah hasanah (nasehat yang baik), bagus dan lembut tidak adanya pada sikap kaku dan kezhaliman. Demikian juga berdebat dengan cara lebih baik jika diperlukan untuk menghilangkan syubhat dan menjelaskan kebenaran. Lakukan debat dengan cara yang lebih baik, dengan kata-kata dan cara yang bagus dan bermanfaat yang bisa menjawab syubhat dan membimbing kepada kebenaran, tanpa sikap kasar dan keras.

Maka para jama’ah haji sangat butuh kepada dakwah dan arahan kepada kebaikan dan bantuan kepada kebenaran. Apabila mereka bertemu dengan segenap saudaranya dari berbagai penjuru dunia kemudian mereka saling mengingatkan tentang kewajiban Allah atas mereka maka itu merupakan sebab terbesar untuk menyatukan barisan mereka dan istiqamah di atas agama Allah, sekaligus sebab terbesar untuk mereka saling mengenal dan saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Jadi ibadah haji padanya terdapat banyak manfaat yang besar, kebaikan yang sangat banyak; padanya terdapat dakwah menuju jalan Allah, taklim (pengajaran ilmu), bimbingan, saling mengenal dan saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, baik dengan ucapan maupun perbuatan, dengan maknawi maupun materi. Demikianlah disyari’atkan kepada segenap jama’ah haji dan ‘umrah agar mereka saling bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan, saling menasehati dan bersemangat dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, dan menjauhi segala yang Allah haramkan.

Kewajiban terbesar yang Allah tetapkan adalah mentauhidkan-Nya dan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya, di semua tempat dan semua waktu, termasuk ditempat agung nan penuh barakah ini. Sesungguhnya termasuk kewajiban terbesar adalah memurnikan peribadahan untuk Allah semata di semua tempat dan di semua waktu, maka di tempat ini (di Makkah) kewajiban tersebut lebih besar dan lebih wajib lagi. Maka wajib memurnikan (ibadah) hanya untuk Allah semata dalam ucapan maupun perbuatan, baik berupa thawaf, sa’i, do’a, dan yang lainnya. Demikian juga amalan-amalan lainnya, semuanya harus murni untuk Allah Jalla wa ‘Ala semata dan harus menjauhi segala kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjauhi perbuatan menzhalimi dan mengganggu hamba baik dengan ucapan maupun penbuatan. Seorang mukmin itu sangat bersemangat untuk memberikan manfaat terhadap saudara-saudaranya, berbuat baik kepada mereka, dan mengarahkan mereka kepada kebaikan, serta menjelaskan hal-hal yang belum mereka ketahui dari perintah dan syari’at Allah, dengan waspada dari mengganggu mereka, menzhalimi mereka baik terkait darah/nyawa, harta, maupun kehormatan mereka. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya, tidak menghinakannya, dan tidak menyia-nyiakannya, sebaliknya ia mencintai untuk saudaranya segala kebaikan dan membenci kejelekan untuk saudaranya, di mana pun berada, terlebih lagi di Baitullah, di tanah haram, dan di negeri Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Allah telah menjadikan tanah haram ini sebagai tempat yang aman, Allah jadikan aman dari segala hal yang ditakuti oleh manusia. Maka seorang muslim harus benar-benar perhatian, agar dirinya menjadi orang yang terpercaya terhadap saudaranya, menasehati, dan mengarahkannya. Tidak malah menipunya, atau mengkhianati dan mengganggunya, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Allah telah menjadikan tanah haram ini sebagai tempat yang aman, sebagaimana firman-Nya :

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا

Ingatlah  ketika Kami menjadikan Ka’bah ini sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.

Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman :

أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا

Bukankah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam Tanah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami? (Al-Qashash : 57)

Maka seorang mukmin harus benar-benar bersemangat untuk mewujudkan keamanan tersebut. Hendaknya dirinya berupaya serius untuk memberikan kebaikan kepada saudaranya, membimbing mereka kepada sesuatu yang bermanfaat, membantu mereka dalam urusan dunia maupun urusan agama, kepada segala yang membuat hatinya lapang, dan membantunya untuk menunaikan manasik. Sebagaimana ia juga berupaya serius untuk menjauhi dari berbagai maksiat yang Allah haramkan. Di antara kemaksiatan tersebut adalah mengganggu manusia yang lain. Sesungguhnya itu di antara perbuatan haram yang terbesar. Apabila gangguan tersebut dilakukan terhadap para jama’ah dan ‘umrah Baitullah Al-Haram, maka menjadi kezhaliman yang lebih besar lagi dosanya, lebih keras hukumannya, dan lebih parah akibatnya.

Haji dan ‘Umrah merupakan dua ibadah besar, termasuk ibadah yang terbesar, yang terdapat di belakangnya pahala yang sangat besar, manfaat yang sangat banyak, hasil-hasil yang baik, untuk segenap kaum muslimin di segala penjuru dunia.

Shalat lima waktu, para hamba di masing-masing negeri berkumpul padanya, saling mengenal, saling menasehati, dan saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan. Namun pada ibadah haji, berkumpul padanya seluruh kaum muslimin di alam ini dari segala tempat. Apabila pada ibadah shalat lima waktu terdapat kebaikan yang besar padanya karena berkumpulnya kaum muslimin padanya sehari lima kali, maka demikian pula pada ibadah haji kaum muslimin berkumpul setiap tahun, padanya kebaikan yang besar, bahkan dalam ibadah haji kebaikan tersebut lebih besar lagi, yaitu dari sisi adanya ajakan terhadap umat kepada kebaikan karena mereka datang dari segenap penjuru. Bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan saudaramu yang engkau jumpai sekarang. Demikian juga kaum wanita, hendaknya mereka juga bersemangat untuk mencurahkan upayanya dalam membimbing saudara-saudaranya di jalan Allah kepada amalan yang telah Allah ajarkan.

Maka seorang pria, hendaknya ia membimbing saudara-saudara maupun saudari-saudarinya di jalan Allah dari kalangan para jama’ah haji Baitullah Al-Haram dan para peziarah Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga seorang wanita membimbing saudara-saudara maupan saudari-saudarinya  di jalan Allah hal-hal yang ia ketahui terkait ibadah haji dan ‘umrah.

Demikianlah semestinya ibadah haji, dan demikianlah semestinya ibadah ‘umrah. Pada keduanya terdapat kerja sama, saling berwasiat dengan al-haq, saling menasehati, dan bimbingan kepada kebaikan, mencurahkan kebaikan dan tidak mengganggu di mana para jama’ah haji dan ‘umrah tersebut berada, baik di dalam Masjidil Haram maupun di luarnya, baik ketika thawaf, sa’i, melempar jumrah, maupun lainnya. Masing-masing bersemangat untuk memberikan manfaat kepada saudaranya dan mencegah timbulnya gangguan di segenap penjuru negeri yang mulia tersebut dan di semua masya’iril haj. Mengharap pahala dari Allah, takut dari akibat jelek kezhaliman dan gangguan terhadap saudara-saudaranya sesama muslim.

Ini semua masuk dalam firman Allah Ta’ala :

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِين

Sesungguhnya rumah (untuk ibadah) pertama yang dibangun bagi umat manusia adalah Ka’bah yang ada di Makkah, yang penuh barakah dan petunjuk bagi alam semesta. (Ali ‘Imran : 96)

Ka’bah tersebut dinyatakan sebagai rumah yang penuh barakah dan petunjuk bagi alam semesta, karena kebaikan besar yang diperoleh bagi orang-orang yang datang  kepadanya di rumah mulia tersebut, berupa thawaf, sa’i, talbiyah, dan dzikir-dzikir yang agung, yang denganya mereka mendapat bimbingan ke arah tauhid kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Mereka juga bisa saling mengenal , saling bertemu, saling berwasiat, dan saling menasehati yang dengan itu mereka mendapat bimbingan kepada kebenaran.

Oleh karena itu Allah nyatakan Ka’bah ini sebagai rumah yang mubarak (penuh barakah) dan petunjuk bagi alam semesta, karena padanya diperoleh berbagai kebaikan besar berupa talbiyah, dzikir-dzikir, ketaatan yang agung, mengenalkan dan membimbing hamba kepada Rabb-nya, tauhid kepada-Nya, menginggatkan mereka dengan kewajiban-kewajiban mereka terhadap-Nya dan terhadap Rasul-Nya, serta mengingatkan mereka terhadap kewajiban-kewajiban mereka terhadap saudara-saudaranya para jama’ah haji dan ‘umrah, berupa saling menasehati, saling bekerja sama, saling berwasiat dengan al-haq, membantu para fuqara’, membela orang yang terzhalimi, mencegah orang zhalim (dari kezhalimannya), dan membantu (untuk bisa melakukan) berbagai kebaikan.

Demikianlah yang semestinya bagi para jama’ah haji dan ‘umrah Baitullah Al-Haram, hendaknya mereka menyiapkan diri masing-masing untuk kebaikan yang sangat besar ini. bersiap untuk memberikan kebaikan kepada saudara-saudaranya, bersemangat dalam mencurahkan kebaikan dan mencegah kejelekan/gangguan. Masing-masing bertanggung jawab atas beban yang Allah berikan kepadanya sebatas kemampuannya, sebaimana firman Allah

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertaqwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian. (At-Taghabun : 16)

Saya memohon kepada Allah dengan Asma`ul Husna-Nya dan Sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar memberikan taufiq segenap kaum muslimin kepada segala yang padanya terdapat keridhaan-Nya dan kebiakan hamba-hamba-Nya. Semoga Allah memberikan taufiq seluruh jama’ah haji dan ‘umrah kepada segala yang padanya terdapat kebaikan  dan keselamatan untuk mereka, yang padanya bisa menyebabkan diterimanya ibadah haji  dan ‘umrah mereka, serta kepada segala yang padanya terdapat kebaikan untuk agama dan dunia mereka.

Sebagaimana pula, aku memohon kepada Allah agar mengembalikan para jama’ah haji ke negerinya masing-masing dalam keadaan selamat, mendapat taufiq, telah terbimbing, dan mengambil manfaat dari ibadah haji mereka yang itu menyebabkan mereka terselamatkan dari api neraka dan menyebabkan mereka masuk ke jannah serta menyebabkan mereka istiqamah di atas kebenaran di manapun mereka berada.

Aku juga memohon kepada Allah agar memberikan taufiq pemerintah kita di negeri ini kepada semua kebaikan, dan segala yang bisa membantu para jama’ah haji menunaikan manasik haji mereka dalam bentuk yang Allah ridhai. Sungguh pemerintah negeri ini (Kerajaan Saudi Arabia) telah berbuat banyak berupa berbagai proyek dan program yang bisa membantu para jama’ah haji menunaikan manasik haji mereka dan memberikan kelancaran kepada mereka dengan memperluas bangunan masjid ini. Semoga Allah membalas Pemerintah negeri dengan kebaikan dan melipatgandakan pahalanya.

Tidak diragukan, bahwa wajib atas para jama’ah untuk menghindari segala hal yang bisa menimbulkan gangguan dan kekacauan dengan segala bentuknya, seperti demonstrasi, orasi-orasi, provokasi-provokasi menyesatkan, maupun turun ke jalan-jalan yang menyempitkan para jama’ah haji dan mengganggu mereka, dan berbagai berbagai bentuk gangguan lainnya yang wajib dijauhi oleh para jama’ah haji.

Telah lewat kita jelaskan di atas, bahwa wajib bagi jama’ah haji agar masing-masing bersemangat untuk memberikan manfaat kepada saudaranya dan memudahkan mereka menunaikan manasik hajinya. Tidak mengganggu mereka baik di jalan ataupun lainnya.

Aku memohon pula kepada Allah agar memberikan taufik pemerintah dan membantu mereka mewujudkan segala hal yang bermanfaat bagi para jama’ah haji dan memudahkan penunaikan manasik haji mereka. Semoga Allah memberikan barakah pada jerih payah dan upaya keras mereka. Semoga Allah memberikan taufiq para penanggung jawab urusan haji kepada segala hal yang memudahkan urusan-urusan haji dan segala hal yang bisa membantu terlaksananya manasik haji sebaik-baiknya.

Sebagaimana aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik seluruh pemerintah negeri muslimin di setiap tempat, kepada segala hal yang padanya terdapat keridhaan-Nya. Semoga Allah memperbaika hati mereka dan amal-amal mereka, semoga Allah memperbaiki orang-orang/teman-teman dekat mereka, membantu mereka dalam mewujudkan penerapan hukum dengan syari’at Allah terhadap hamba-hamba-Nya.

Semoga Allah melindung kita dan mereka dari memperturutkan hawa nafsu dan menjaga kita dari kesesatan-kesesatan fitnah.

Sesungguh Allah Jalla wa ‘Ala Maha Pemurah dan Maha Pemberi.

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان

(dari muhadharah (ceramah) yang disampikan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pada Sabtu sore 28 Dzulqa’dah 1409 / 2 Juli 1989. Termasuk dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah V/130-141)


[1] Sebagaimana firman Allah :

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ * وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ * لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kalian menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah  (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus  yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (Al-Hajj : 26-28)

[2] Ada juga ‘ulama tafsir yang berpendapat maksudnya  adalah dari Muzdalifah.

[3] Yaitu bulan Syawwal, Dzulqa`dah dan Dzulhijjah

Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=385#more-385

8 November 2009 Posted by | agama, fiqih | | Tinggalkan komentar

Berqurban Sebagai Tanda Pengorbanan

Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ. فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيْمٍ. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلآخِرِيْنَ. سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang halim (cerdik dan bijaksana). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 100-109)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
غُلاَمٍ حَلِيْمٍ
Seorang anak yang cerdik dan bijaksana. Yang dimaksud adalah di saat dia dewasa, dia memiliki sifat ini.

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa dari anak Ibrahim ‘alaihissalam yang dimaksud dalam ayat tersebut. Sebagian mengatakan yang dimaksud adalah Ishaq. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian salaf seperti Ikrimah dan Qatadah. Ada juga yang menukil dari beberapa shahabat, di antaranya ‘Abbas bin Abdil Muththalib, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud, Umar bin Al-Khaththab, Jabir, dan yang lainnya radhiyallahu ‘anhum.

Sebagian lagi mengatakan yang dimaksud adalah Isma’il ‘alaihissalam, dan ini pendapat yang dinukilkan dari Abu Hurairah dan Abu Thufail Amir bin Watsilah. Juga diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum. Dan ini pendapat Sa’id bin Musayyab, Asy-Sya’bi, Yusuf bin Mihran, dan yang lainnya. Dan pendapat ini dikuatkan oleh para ahli tahqiq seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, Abdurrahman As-Sa’di, Asy-Syinqithi, dan yang lainnya rahimahumullah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Taisir Al-Karim Arrahman, Adhwa`ul Bayan, dan Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 4/331-336)

Pendapat yang terkuat adalah yang kedua. Kuatnya pendapat ini ditinjau dari beberapa sisi:

Pertama: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan berita gembira kepada Ibrahim ‘alaihissalam tentang anak yang akan disembelih. Kemudian setelah menyebut kisahnya secara sempurna, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan setelahnya berita gembira tentang lahirnya Ishaq ‘alaihissalam:
وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِيْنَ. وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ
“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq.” (Ash-Shaffat: 112-113)

Maka ini menunjukkan bahwa ada dua berita gembira, berita tentang anak yang akan disembelih serta anak yang bernama Ishaq.
Kedua: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebut tentang kisah penyembelihan kecuali pada surat Ash-Shaffat saja, sedangkan pada ayat-ayat yang lain hanya disebutkan berita gembira tentang lahirnya Ishaq secara khusus.

Ketiga: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوْبَ
“Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya’qub.” (Hud: 71)

Kalau sekiranya yang disembelih itu Ishaq, tentu Ibrahim ‘alaihissalam akan menganggap terjadinya penyalahan janji tentang munculnya Ya’qub dari keturunan Ishaq ‘alaihissalam.

Keempat: bahwa yang disifati dengan sifat sabar adalah Isma’il ‘alaihissalam, seperti dalam firman-Nya:
وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِدْرِيْسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِيْنَ
“Dan (ingatlah kisah) Isma’il, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar.” (Al-Anbiya`: 85)

Dan masih ada lagi sisi penguat yang menunjukkan bahwa yang akan disembelih adalah Isma’il ‘alaihissalam, bukan Ishaq ‘alaihissalam.
Syaikhul Islam rahimahullahu menjelaskan: “Yang wajib diyakini bahwa yang dimaksud (ayat ini) adalah Isma’il. Dan inilah yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-sunnah, serta penguat-penguat yang masyhur. Ini pula yang disebutkan dalam Kitab Taurat yang ada di tangan ahli kitab, di mana disebutkan padanya bahwa (Allah Subhanahu wa Ta’ala) berfirman kepada Ibrahim:
اذْبَحِ ابْنَكَ وَحِيْدَكَ
“Sembelihlah anakmu yang satu-satunya.”

Dalam naskah yang lain: بَكْرَكَ (anak semata wayang dari ibu yang satu).
Dan Isma’il adalah anak satu-satunya yang dari satu ibu (pada masa itu) berdasarkan kesepakatan kaum muslimin dan ahli kitab. Namun ahli kitab mengubah lalu menambah kata ‘Ishaq’, lantas dkutip oleh sebagian orang dan menyebar di sebagian kaum muslimin bahwa yang dimaksud adalah Ishaq, padahal asalnya adalah dari perubahan ahli kitab.” (Majmu’ Fatawa, 4/331-332)

Penjelasan Ayat
As-Sa’di rahimahullahu ketika menjelaskan ayat-ayat ini mengatakan: “(Ibrahim berkata): ‘Wahai Rabb-ku, berikanlah aku seorang anak yang termasuk dari kalangan orang-orang yang shalih’. Beliau mengucapkan itu tatkala ia telah putus asa dari kaumnya di mana beliau tidak melihat kebaikan pada mereka. Beliau pun berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan karunia kepadanya seorang anak yang shalih, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat baginya dalam kehidupan dan setelah kematiannya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengabulkannya dan berfirman: ‘Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan lahirnya seorang anak yang cerdik dan bijaksana’, dan tidak ada keraguan bahwa dialah Isma’il ‘alaihissalam. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan berita gembira setelahnya dengan lahirnya Ishaq ‘alaihissalam dan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang berita gembira lahirnya Ishaq ‘alaihissalam dengan firman-Nya:
وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوْبَ
“Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya’qub.” (Hud: 71)

Sehingga ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah yang akan disembelih. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi sifat Isma’il dengan kebijaksanaan, yang mengandung kesabaran, akhlak yang baik, lapang dada, serta memaafkan orang yang bersalah. Tatkala anak tersebut telah mencapai waktu untuk bisa bekerja bersama ayahnya dan biasanya hal itu di saat mencapai usia baligh, dia pun senang untuk melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, telah hilang kesulitannya dan telah terasa manfaatnya. Maka Ibrahim ‘alaihissalam berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu,’ yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkanku untuk menyembelihmu. Karena mimpi para nabi adalah wahyu, maka perhatikanlah apa pendapatmu, sesungguhnya perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala harus dijalankan.

Maka Isma’il ‘alaihissalam yang senantiasa bersabar dan mengharap keridhaan Rabbnya serta berbakti kepada ayahnya berkata: ‘Wahai ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapatiku –insya Allah- termasuk di antara orang-orang yang bersabar.’
Dia mengabarkan kepada ayahnya bahwa dia telah menetapkan dirinya di atas kesabaran dan menggandengkan hal tersebut dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab tidaklah terjadi sesuatu tanpa kehendak-Nya. Tatkala keduanya telah berserah diri, yaitu Ibrahim dan Isma’il anaknya, dalam keadaan dia telah menetapkan untuk membunuh anak sekaligus buah hatinya, sebagai wujud menaati perintah Rabbnya dan takut dari siksaan-Nya, sedangkan sang anak telah menetapkan dirinya di atas kesabaran, dan Ibrahim telah meletakkan Isma’il dengan membelakangi wajahnya dan tengkuknya berada di atas, ia menidurkannya dan akan menyembelihnya, wajahnya dibalik agar dia tidak melihat ke wajahnya di saat penyembelihan. Kamipun memanggilnya dalam kondisi yang menegangkan dan keadaan yang sangat mencekam itu: ‘Wahai Ibrahim,’ engkau telah membenarkan dan melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Sesungguhnya engkau telah menetapkan dirimu di atas hal tersebut, dan engkau telah melakukan semua sebab, serta tidak ada yang tersisa kecuali melewatkan pisau di atas tenggorokannya. Sesungguhnya Kami dengan itu membalas orang-orang yang berbuat kebaikan dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami daripada hawa nafsunya.

Sesungguhnya ujian yang kami berikan kepada Ibrahim ini benar-benar merupakan ujian yang nyata, yang menjelaskan ketulusan Ibrahim, dan kesempurnaan cintanya kepada Rabbnya serta menjadi khalil-Nya. Karena tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia Isma’il ‘alaihissalam kepada Ibrahim ‘alaihissalam, dia pun sangat mencintainya. Padahal beliau adalah Khalilullah di mana khalil merupakan tingkatan kecintaan yang tertinggi, dan itu harus murni dan tidak menerima adanya penyetaraan, serta menghendaki agar seluruh unsur kecintaan tersebut benar-benar terpaut kepada yang dicintai.

Tatkala ada satu unsur dari hati Ibrahim yang melekat pada diri Isma’il, Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak memurnikan kecintaan Ibrahim kepada-Nya dan menguji khalil-Nya. Maka Dia memerintahkan untuk menyembelih orang yang kecintaannya telah mengusik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim lebih mengutamakan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lebih mendahulukannya di atas hawa nafsunya, serta bertekad untuk menyembelihnya, hilanglah sesuatu yang mengusik dalam hatinya tersebut, sehingga penyembelihan pun tidak berfaedah lagi.

Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya benar-benar ini merupakan ujian yang nyata, dan Kami menebusnya dengan sembelihan yang agung,’ yaitu diganti dengan sembelihan berupa kambing yang agung yang disembelih Ibrahim. Keagungan kambing tersebut dari sisi bahwa itu adalah tebusan dari Isma’il ‘alaihissalam di mana itu termasuk di antara ibadah yang agung. Dan dari sisi bahwa hal itu menjadi ibadah qurban dan sunnah hingga hari kiamat. Dan kami meninggalkan untuknya pujian yang benar pada orang-orang belakangan sebagaimana orang-orang terdahulu. Sehingga setiap yang datang setelah Ibrahim ‘alaihissalam, senantiasa mencintai, mengagungkan, dan memuji, ‘keselamatan atas Ibrahim’ yaitu penghormatan atasnya. Seperti firman-Nya:
قُلِ الْحَمْدُ لِلهِ وَسَلاَمٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى آللهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?’.” (An-Naml: 59) [lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman]

Telah diriwayatkan oleh Abu Thufail dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Tatkala Ibrahim ‘alaihissalam diperintah untuk menyembelih anaknya, setan pun berusaha menggodanya ketika berada di tempat sa’i, lalu berusaha mendahului Ibrahim. Namun Ibrahim berhasil mendahuluinya. Jibril lantas membawa Ibrahim menuju jamratul ‘aqabah. Setan pun kembali menggodanya. Beliau pun melemparnya dengan tujuh kerikil, hingga setan itu pergi lalu menggodanya kembali di jamratul wustha. Ibrahim pun melemparnya dengan tujuh kerikil. Dan di sanalah Isma’il dibaringkan, dalam keadaan Isma’il memakai gamis berwarna putih. Lalu ia (Ismail) berkata: ‘Wahai ayahku, aku tidak memiliki baju yang mengafaniku selain ini, maka lepaslah agar ia menjadi kain kafanku.’ Ketika beliau hendak melepasnya, terdengarlah panggilan dari belakangnya: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah menjalankan mimpimu.’ Ibrahim pun berbalik, ternyata ada seekor domba putih, bertanduk, dan bermata lebar. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Sungguh kami pernah menjual jenis domba seperti ini’.” (HR. Ahmad, 1/297, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1/638, Al-Baihaqi, 5/153, At-Thabari dalam Tafsir-nya, 23/80. Al-Hakim menyatakan: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Al-Bukhari dan Muslim; dan keduanya tidak mengeluarkannya.” Dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib: 2, no. 1156)

Berqurban, Sebagai Bukti Pengorbanan
Ayat yang mulia ini menjelaskan betapa beratnya cobaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Ibrahim ‘alaihissalam serta betapa besarnya pengorbanannya sebagai bentuk pembuktian dirinya sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berserah diri sepenuhnya, dan sebagai khalilullah yang memurnikan kecintaannya hanya untuk-Nya. Dan ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai jenis cobaan, untuk membuktikan keimanan hamba tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا يَأْتِيْهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلاَّ اسْتَمَعُوْهُ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ. لاَهِيَةً قُلُوْبُهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا هَلْ هَذَا إِلاَّ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَفَتَأْتُوْنَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُوْنَ
“Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang dzalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: ‘Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?’.” (Al-Anbiya`: 2-3)
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

Ibrahim ‘alaihissalam akhirnya memang tidak melaksanakan penyembelihan terhadap anaknya, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian tersebut bukan dalam rangka mewujudkan penyembelihan terhadap anaknya tersebut, namun semata-mata untuk membuktikan kecintaan Ibrahim ‘alaihissalam yang murni hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini mirip dengan kisah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tiga orang dari kalangan Bani Israil: orang yang berpenyakit sopak, si botak, dan si buta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak menguji mereka dengan mengutus seorang malaikat, lalu mendatangi orang yang berpenyakit sopak, lalu bertanya: “Apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Warna kulit yang indah, kulit yang bagus, dan hilang penyakit yang karenanya manusia merasa jijik dariku.” Maka malaikat itu pun mengusapnya, hingga hilanglah penyakit tersebut dan ia diberi warna kulit yang indah. Lalu dikatakan kepadanya: “Harta apa yang paling engkau sukai?” ia menjawab: “Unta.” Maka ia pun diberi unta betina yang sedang bunting, dan dikatakan kepadanya: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi berkah untukmu.”

Lalu malaikat itu mendatangi si botak dan bertanya: “Apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Rambut yang indah dan hilangnya apa yang membuat manusia merasa jijik dariku.” Malaikat itu pun mengusapnya sehingga hilanglah botaknya dan dia diberi rambut yang indah. Lalu dia ditanya: “Harta apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Sapi.” Maka ia pun diberi sapi betina yang bunting. Lalu dikatakan kepadanya: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi berkah untukmu.”

Lalu malaikat itu mendatangi si buta, dan berkata seperti yang diucapkan kepada yang sebelumnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan penglihatannya dan diberi seekor kambing yang bunting.
Tidak lama kemudian harta mereka berkembang biak. Sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Lalu datanglah malaikat tersebut kepada orang yang pernah berpenyakit sopak, dalam bentuk dan keadaannya yang dulu lalu berkata: “Aku orang miskin. Aku sudah tidak punya bekal dalam perjalananku. Tidak ada yang dapat melanjutkan perjalananku kecuali karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian karena engkau. Aku meminta kepadamu dengan nama Dzat yang telah memberikan kepadamu warna kulit yang indah, kulit yang bagus, dan harta, agar engkau berikan aku seekor unta sehingga aku dapat melanjutkan perjalananku.” Ia menjawab: “Banyak hak-hak manusia yang harus ditunaikan.” Si miskin berkata: “Sepertinya aku mengenalmu, bukankah dahulu engkau berpenyakit sopak dan manusia merasa jijik darimu, miskin, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ini semua kepadamu?” Ia menjawab: “Sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari nenek moyangku yang mulia secara turun-temurun.” Maka si miskin berkata: “Jika engkau berdusta, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikanmu seperti dulu. ”
Lalu ia (malaikat) mendatangi si botak dan berkata kepadanya seperti yang dikatakan kepada sebelumnya, dan si botak pun menjawab seperti jawaban orang sebelumnya (yang berpenyakit sopak). Maka ia (malaikat) berkata: “Jika engkau berdusta, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan engkau seperti dulu.”

Lalu ia (malaikat) mendatangi si buta dalam bentuk dan keadaannya (yang dahulu), kemudian berkata: “Aku orang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalananku. Tidak ada yang menyampaikanku hari ini kecuali dengan bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian bantuanmu. Aku meminta kepadamu dengan nama Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu agar engkau berikan aku seekor kambing yang dapat menyampaikanku dalam perjalananku.” Maka ia menjawab: “Dahulu aku buta, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah harta mana yang engkau inginkan dan tinggalkan yang mana yang engkau mau. Demi Allah, aku tidak merasa berat padamu pada hari ini dengan sesuatu yang engkau mengambilnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Maka malaikat itu menjawab: “Jagalah hartamu, sesungguhnya kalian hanyalah diuji. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah meridhaimu, dan murka terhadap dua temanmu.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Hadits ini menunjukkan bahwa malaikat tersebut tidak berkeinginan untuk mengambil harta si buta, namun hanya sekedar memberi ujian terhadap kebenaran imannya. Dan hal tersebut telah terbukti. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah pengorbanan Ibrahim ‘alaihissalam ini.
Wabillahit taufiq.

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=578

5 November 2009 Posted by | agama, fiqih | | Tinggalkan komentar

Sunnah yang Terabaikan Bagi Seseorang yang Mau Berqurban

Penulis : Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

Dari Ummu Salamah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada: ”Apabila telah masuk sepuluh (hari pertama bulan Dzulhijjah), salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka janganlah sedikit pun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu)nya dan mengupas kulitnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 25269, Al-Imam Muslim no. 1977, Al-Imam An-Nasa`i, 7 hal. 212, Al-Imam Abu Dawud 3/2793, Al-Imam At-Tirmidzi 3/1523, Al-Imam Ibnu Majah 2/3149, Al-Imam Ad-Darimi no. 1866. (CD Program, Syarh An-Nawawi cet. Darul Hadits)

Jalur Periwayatan Hadits
Hadits tersebut diriwayatkan dari jalan Sa’id bin Musayyib dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Dalam riwayat hadits ini terdapat seorang rawi yang diperselisihkan penyebutan namanya, yaitu ‘Umar bin Muslim Al-Junda’i. Ada yang menyebutnya ‘Umar bin Muslim dan ada pula yang menyebutnya ‘Amr bin Muslim.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menerangkan, riwayat ‘Umar bin Muslim dari Sa’id bin Musayyab, pada nama عمر kebanyakan riwayat menyebutnya dengan mendhammah ‘ain (عُمر) ‘Umar, kecuali riwayat dari jalan Hasan bin ‘Ali Al-Hulwani, menyebutkan dengan memfathah ‘ain (عَمرو) ‘Amr. Dan ulama menyatakan bahwa keduanya ada penukilannya. (lihat Syarh Al-Imam An-Nawawi, 7/155)

Sebaliknya, Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu menyatakan, telah terjadi perselisihan dalam penyebutan ‘Amr bin Muslim. Sebagian menyatakan ‘Umar dan kebanyakan menyatakan ‘Amr. Beliau sendiri menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa dia adalah ‘Amr bin Muslim bin Ukaimah Al-Laitsi Al-Junda’i. (lihat ‘Aunul Ma’bud, 5/224, cet. Darul Hadits)
Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan: “Telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan manusia terhadap hadits ini, baik dari sisi riwayat maupun dirayah (kandungan maknanya). Sebagian berkata: Tidak benar kalau hadits ini kedudukannya marfu’ (sampai kepada nabi), yang benar ialah mauquf (hanya sampai kepada shahabat).

Ad-Daruquthni rahimahullahu berkata dalam kitab Al-‘Ilal: Telah meriwayatkan secara mauquf Abdullah bin ‘Amir Al-Aslami, Yahya Al-Qathan, Abu Dhamrah, semuanya dari Abdurrahman bin Humaid, dari Sa’id. ‘Uqail meriwayatkan secara mauquf sebagai ucapan Sa’id. Yazid bin Abdillah dari Sa’id dari Ummu Salamah, sebagai ucapan Ummu Salamah. Demikian pula Ibnu Abi Dzi`b meriwayatkan dari jalan Al-Harts bin Abdurrahman, dari Abu Salamah, dari Ummu Salamah, sebagai ucapannya. Abdurrahman bin Harmalah, Qatadah, Shalih bin Hassan, semuanya meriwayatkan dari Sa’id, sebagai ucapannya. Riwayat yang kuat dari Al-Imam Malik, menyatakan mauquf. Dan Al-Imam Ad-Daruquthni berkata: “Yang benar menurut saya adalah pendapat yang menyatakan mauquf.”

Pendapat kedua menyatakan yang benar adalah marfu’. Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah Al-Imam Muslim ibn Hajjaj rahimahullahu, seperti yang beliau sebutkan dalam kitab Shahih-nya. Demikian pula Abu ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullahu berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Ibnu Hibban rahimahullahu juga meriwayatkan dalam Shahih-nya.

Abu Bakr Al-Baihaqi rahimahullahu berkata: “Hadits ini telah tetap/kuat sebagai hadits yang marfu’ ditinjau dari beberapa sisi. Di antaranya: Tidak mungkin orang yang seperti mereka (para ulama yang menshahihkan) salah. Al-Imam Muslim rahimahullahu telah menyebutkan dalam kitabnya. Selain mereka juga masih ada yang menshahihkannya. Telah meriwayatkan secara marfu’ Sufyan bin Uyainah dari Abdurahman bin Humaid dari Sa’id dari Ummu Salamah dari Nabi, dan Syu’bah dari Malik dari ‘Amr bin Muslim dari Sa’id dari Ummu Salamah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidaklah kedudukan Sufyan dan Syu’bah di bawah mereka yang meriwayatkan secara mauquf. Tidaklah lafadz/ucapan hadits seperti ini merupakan ucapan dari para shahabat, bahkan terhitung sebagai bagian dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti sabda beliau (لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ) Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian dan yang semisalnya.” (lihat ‘Aunul Ma’bud, 5/225 cet. Darul Hadits, Mesir)

Penjelasan Hadits
(إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ) artinya, apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Makna ini dipahami dari riwayat lain yang menyebutkan:
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ
”Apabila kalian telah melihat hilal di bulan Dzulhijah.”
atau:
فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ
”Apabila telah terlihat hilal bulan Dzulhijjah.”
(وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ) artinya, salah seorang di antara kalian ingin berqurban.
Pada sebagian riwayat terdapat tambahan lafadz (وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ), di sisinya (punya) hewan sembelihan. Pada lafadz yang lain (مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ), barangsiapa punya hewan sembelihan yang akan dia sembelih.
(فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا) artinya, janganlah sedikitpun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu) nya dan mengupas kulitnya.
Pada riwayat yang lain terdapat lafadz (فَلاَ يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلاَ يَقْلِمَنَّ ظُفْرًا), Janganlah sekali-kali ia mengambil rambut dan memotong kuku.
Pada lafadz yang lain:
(فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ) Hendaknya ia menahan dari memotong rambut dan kukunya.
Dalam lafadz yang lain:
فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ
Janganlah sekali-kali ia mengambil rambut dan memotong kukunya sedikitpun, hingga ia menyembelih.

Sunnah yang Terabaikan
Termasuk sunnah yang terabaikan bagi seorang yang telah memiliki hewan qurban yang akan ia sembelih adalah tidak ada pengetahuan tentang apa yang harus ia perbuat apabila telah masuk tanggal 1 hingga 10 Dzulhijjah (hari raya qurban tiba)! Tidak/belum sampainya suatu ilmu seringkali menjadi penyebab terabaikannya sekian banyak sunnah (kebaikan) baik berupa perintah atau larangan. Oleh sebab itu, sepantasnya bahkan wajib bagi setiap muslim, laki-laki maupun wanita untuk membekali kehidupan ini dengan ilmu agama yang benar, hingga tidak berujung penyesalan hidup di kemudian hari.
Hadits yang tersebut di atas membimbing kita, terutama bagi seorang muslim yang telah mempersiapkan hewan qurban untuk disembelih pada hari raya qurban atau setelahnya pada hari-hari Tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzulhijjah). Apabila telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, hendaknya ia menahan diri untuk tidak mencukur atau mencabut rambut/bulu apapun yang ada pada dirinya (baik rambut kepala, ketiak, tangan, kaki, dan yang lainnya). Demikian pula tidak boleh memotong kuku (tangan maupun kaki) serta tidak boleh mengupas kulit badannya (baik pada telapak tangan maupun kaki, ujung jari, tumit, atau yang lainnya). Larangan ini berlaku bagi yang memiliki hewan qurban dan akan berqurban, bukan bagi seluruh anggota keluarga seseorang yang akan berqurban. Larangan ini berakhir hingga seseorang telah menyembelih hewan qurbannya. Jika ia menyembelih pada hari yang kesepuluh Dzulhijjah (hari raya qurban), di hari itu boleh baginya mencukur rambut/memotong kuku. Jika ia menyembelih pada hari yang kesebelas, keduabelas, atau yang ketigabelas, maka di hari yang ia telah menyembelih hewan qurban itulah diperbolehkan baginya untuk mencukur rambut atau memotong kuku.

Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim, ‘Amr bin Muslim pernah mendapati seseorang di kamar mandi sedang mencabuti bulu ketiaknya menggunakan kapur sebelum hari raya qurban. Sebagian mereka ada yang berkata: “Sesungguhnya Sa’id bin Musayyib tidak menyukai perkara ini.”

Ketika ‘Amr bin Muslim bertemu dengan Sa’id bin Musayyib, ia pun menceritakannya. Sa’id pun berkata: “Wahai anak saudaraku, hadits ini telah dilupakan dan ditinggalkan. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepadaku, ia berkata: Nabi telah bersabda, seperti hadits di atas.”
Kalau manusia di zaman beliau demikian keadaannya, bagaimana dengan di zaman kita sekarang?!
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang menghidupkan Sunnah Nabi-Nya dan bukan menjadikan sebagai orang yang memadamkan/mematikannya.

Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi larangan dalam perkara ini. Ada yang memahami sesuai dengan apa yang nampak dari lafadz hadits tersebut, sehingga mereka berpendapat haram bagi seseorang untuk melakukannya (wajib untuk meninggalkannya). Di antara mereka adalah Sa’id bin Musayyib, Rabi’ah bin Abi Abdirrahman, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan sebagian dari pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i. Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya berpendapat makruh (tidak dikerjakan lebih utama), bukan diharamkam. Dan yang berpendapat semisal ini adalah Al-Imam Malik dan sebagian pengikut Al-Imam Ahmad seperti Abu Ya’la dan yang lainnya.
Pendapat lain dalam hal ini adalah mubah (tidak mengapa melakukannya). Pendapat ini dianut oleh Abu Hanifah dan pengikutnya.

Peringatan
Sebagian orang ada yang memahami bahwa larangan mencukur rambut/bulu, memotong kuku, dan mengupas/mengambil kulit, kata ganti dalam hadits di atas (-nya – bulunya, kukunya, kulitnya) kembali kepada hewan yang akan disembelih.
Jika demikian, hadits di atas akan bermakna: “Apabila telah masuk 10 hari awal Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kalian akan berqurban, maka janganlah ia mencukur bulu (hewan yang akan dia sembelih), memotong kuku (hewan qurban), dan jangan mengupas kulit (hewan qurban).”
Tentunya bukanlah demikian maknanya. Makna ini juga tidak selaras dengan hikmah yang terkandung di dalam hadits itu sendiri.

Hikmah yang Terkandung
Di samping sebagai salah satu bentuk ketaatan dan mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hikmah dari larangan tersebut adalah agar seseorang tetap utuh anggota badannya kala ia akan dibebaskan dari panasnya api neraka.

Sebagian ada yang berpendapat, hikmahnya adalah agar seorang merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji atau diserupakan dengan seorang yang telah berihram, sehingga mereka juga dilarang dari mencukur rambut, memotong kuku, mengupas kulit, dan sebagainya.

Namun pendapat terakhir ini ada yang tidak menyetujuinya, dengan alasan, bagaimana diserupakan dengan seorang yang menunaikan haji, sementara ia (orang yang akan berqurban) tidak dilarang dari menggauli istrinya, memakai wewangian, mengenakan pakaian dan yang lainnya. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/224-226, cet. Darul Hadits, Syarh An-Nawawi 7/152-155, cet. Darul Hadits)

Hadits-hadits Lemah dalam Berqurban
1. Kesempurnaan sembelihan
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُمِرْتُ بِيَوْمِ اْلأَضْحَى عِيْدًا جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ. قَالَ الرَّجُلُ: أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ أَجِدْ إِلاَّ أُضْحِيَّةً أُنْثَى أَفَأُضَحِّي بِهَا؟ قَالَ: لاَ، وَلَكِنْ تَأْخُذُ مِنْ شَعْرِكَ وَأَظْفَارِكَ وَتَقُصُّ شَارِبَكَ وَتَحْلِقُ عَانَتَكَ فَتِلْكَ تَمَامُ أُضْحِيَّتِكَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan pada hari Adha sebagai hari raya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadiahkannya untuk umat ini.” Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana pendapatmu (kabarkan kepada saya) jika aku tidak mendapatkan kecuali sembelihan hewan betina, apakah aku menyembelihnya?” Beliau menjawab: “Jangan. Akan tetapi ambillah dari rambut dan kukumu, cukur kumis serta bulu kemaluanmu. Itu semua sebagai kesempurnaan sembelihanmu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Abu Dawud no. 2786)

Al-Mundziri rahimahullahu menjelaskan: “Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa`i. Sanad hadits ini lemah di dalamnya terdapat seorang rawi yang bernama ‘Isa bin Hilal Ash-Shadafi. Tidak ada yang menguatkan kecuali Ibnu Hibban.”
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mendhaifkannya dalam Dha’if Abi Dawud. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/222)

2. Sembelihan dikhususkan untuk orang yang sudah meninggal
عَنْ حَنَشٍ قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ فَقُلْتُ لَهُ: مَا هَذَا؟ فَقَالَ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَانِي أَنْ أُضَحِّيَ عَنْهُ فَأَنَا أُضَحِّي عَنْهُ
Dari Hanasy ia berkata: “Aku melihat ‘Ali bin Abi Thalib sedang menyembelih dua ekor domba. Kemudian aku bertanya: ‘Apa ini?’ Ali pun menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku agar aku menyembelih hewan qurban untuknya, dan akupun menyembelihkan untuknya.” (HR. Abu Dawud no. 2786, At-Tirmidzi no. 1495)
Sanad hadits ini lemah, terdapat di dalamnya seorang rawi yang bernama Abul Hasna`, yang dia tidak dikenal. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/222)

3. Pahala bagi orang yang berqurban
فِي اْلأُضْحِيَّةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pada setiap hewan qurban, terdapat kebaikan di setiap rambut bagi pemiliknya.” (HR. At-Tirmidzi. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Hadits ini maudhu’ (palsu).”)

4. Hewan qurban adalah tunggangan di atas shirath
اسْتَفْرِهُوْا ضَحَايَاكُمْ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلىَ الصِّرَاطِ
“Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath.”
Hadits ini lemah sekali (dha’if jiddan). Dalam sanadnya ada Yahya bin Ubaidullah bin Abdullah bin Mauhab Al-Madani, dia bukanlah rawi yang tsiqah, bahkan matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan oleh para ulama). Juga ayahnya, Ubaidullah bin Abdullah, adalah seorang yang majhul. Lihat Adh-Dha’ifah karya Al-Albani rahimahullahu (2/14, no. hadits 527, dan 3/114, no. hadits 1255), Dha’iful Jami’ (no. 824). (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 60 dan 62, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)
عَظِّمُوا ضَحَايَاكُمْ فِإِنَّهَا عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ
“Gemukkanlah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath.”
Hadits dengan lafadz ini tidak ada asalnya. Ibnu Shalah rahimahullahu berkata: “Hadits ini tidak dikenal, tidak pula tsabit (benar datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 64, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)

5. Darah sembelihan jatuh di tempat penyimpanan Allah Subhanahu wa Ta’ala
أَيُّهَا النَّاسُ، ضَحُّوْا وَاحْتَسِبُوْا بِدِمَائِهَا، فَإِنَّ الدَّمَ وَإِنْ وَقَعَ فِي اْلأَرْضِ فَإِنَّهُ يَقَعُ فِي حِرْزِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Wahai sekalian manusia, berqurbanlah dan harapkanlah pahala dari darahnya. Karena meskipun darahnya jatuh ke bumi namun sesungguhnya dia jatuh ke tempat penyimpanan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath)
Hadits ini maudhu’ (palsu). Dalam sanadnya ada ‘Amr bin Al-Hushain Al-’Uqaili, dia matrukul hadits, sebagaimana dinyatakan Al-Haitsami rahimahullahu. Lihat Adh-Dha’ifah karya Al-Albani rahimahullahu (2/16, no. hadits 530). (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 62, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)
Wallahu ta’ala a’lam.

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=579

31 Oktober 2009 Posted by | agama, fiqih | | Tinggalkan komentar

Islamic Clock: digital-ornament-button01_wpd

27 Oktober 2009 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

Islamic Calendar

27 Oktober 2009 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

Produk Spesial Kalender Islami 1431 Hijriyah

Insya Allah melengkapi nuansa Islami di dalam hidup anda menjelang 1431 H, kembali kami hadirkan produk spesial Kalender Islami 1431 Hijriyah berupa kalender dinding. Tahun lalu banyak yang tidak kebagian, segera pesan sebelum kehabisan!!

(Kalender ini saat ini sedang proses pembuatan oleh kami, order anda adalah pemesanan dengan garansi 100% uang kembali, kalender dikirim insya Allah ketika terbit pada Dzulhijjah 1430 ini)

KALENDER DINDING

Insya Allah pada akhir Dzulhijjah 1430 H ini, sebagaimana telah rutin setiap tahunnya Al-Ilmu menerbitkan kembali produk spesial kalender hijriyah 1431 H bernuansa islami.

– Kalender dinding ukuran 32 cm x 48 cm
– gambar warna full colour
– kata-kata mutiara islami
– per lembar 2 bulanan, total 6 lembar
– kalender hijriyah (utama) dan masehi (kecil) disertai keterangan.
– untuk pemesanan grosir di atas 30 eks anda bisa mencantumkan tulisan kop/logo yayasan/organisasi/perusahaan anda sendiri (akan disablonkan 1 warna)
– harga eceran :
Harga, (pesan segera sebelum kehabisan!)
Pembelian di bawah 30 eks: Rp.15000/eks (belum termasuk ongkos kirim), tulisan pada bagian kop mengenalkan pada situs-situs website ahlussunnah dan kata-kata mutiara manhaj salaf.
– harga grosir :
Pembelian 30-100 eks: (hubungi kami)/eks (belum termasuk ongkos kirim)
Pembelian di atas 100 eks atau jumlah lebih besar lagi: harga (hubungi kami)/eks (belum termasuk ongkos kirim)
– harga grosir kosongan (tanpa pencantuman tulisan logo/kop) Rp.(hubungi kami), jadi anda nanti bisa menyablonnya/mencetak kop sendiri.
– biaya kirim ditanggung pembeli (hubungi kami untuk keterangan lebih lanjut), untuk pembelian grosir biasanya biaya kirim per kalender tetap murah.
– desain di atas hanya contoh, insya Allah desain jadi akan kami tampilkan nanti jika sudah fix.
– produk eksklusif, dicetak terbatas sesuai jumlah pemesan, segera pesan sekarang juga sebelum kehabisan! (mohon maaf jika tahun lalu banyak yang tidak kebagian karena anda telat memesan).
– tambahan : untuk grosir dengan permintaan pencantuman logo/kop toko, perusahaan, organisasi/yayasan antum sendiri yang ma’ruf. Kami tidak melayani pencantuman logo/kop organisasi/yayasan keislaman yang kami ketahui menyimpang atau hizbiyyah. Cetak logo ada tambahan biaya sendiri.
– kalender diproduksi oleh divisi percetakan dan penerbitan Al-Ilmu, dengan membeli produk ini anda telah mendukung kegiatan dakwah Yayasan Darussunnah Al Islamy Yogyakarta.

Selengkapnya silahkan menghubungi kami melalui :
AL-ILMU.COM
Nitipuran No.285 Jl.Wates Km.2 Yogyakarta 55182
Telp.0274-374046 atau 0817275237
Email : kalender@al-ilmu.com
BELI ONLINE DISINI…!

KALENDER GRATIS BINGKISAN SPESIAL UNTUK PARA BLOGGER …!!!
Bagi anda yang memiliki web atau blog sendiri, anda bisa mendapatkan kalender ini gratis dengan mempromosikan produk ini di web antum. Caranya:

1. Pasang banner berikut ini di blog/web anda (dipasang minimal selama sebulan) :

2. Kirim email ke kalender@al-ilmu.com
alamat website/blog :…….
nama anda:……..
alamat lengkap pengiriman kalender gratis:……..

3. Blog atau web adalah telah aktif minimal sejak 1 bulan terakhir.

Kalender gratis insya Allah akan kami kirim ketika kalender sudah terbit, sekarang sedang proses pembuatan.
Silahkan anda tunggu kiriman hadiah dari kami.

sumber: http://darussunnah.or.id/materi-khusus/produk-spesial-kalender-islami-1431-hijriyah/

27 Oktober 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

perbandingan sifat fisika, kimia tanah alfisols, entisols, dan vertisols

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari tanah tidak terlepas dari pandangan, sentuhan, dan perhatian kita. Kita melihatnya, menginjaknya, bahkan menggunakannya. Semenjak kehidupan manusia, diterangkan bahwa dalam melaksanakan pertanian manusia dapat memilih tanah yang baik dan subur tanpa mengalami kesulitan dengan jalan berpindah-pindah tempat tinggal atau yang biasa disebut dengan nomaden. Akan tetapi, dengan perkembangan zaman maka permasalahan mengenai tanah semakin kompleks dimana manusia kekurangan lahan tanah yang subur untuk bercocok tanam karena sebagian besar lahan tanah dialihfungsikan menjadi pemukiman, perkantoran, atau pabrik industri.
Tanah merupakan komponen hidup dari lingkungan yang penting, yang dapat dimanipulasi untuk mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Apabila terdapat kesalahan dalam pengolahan tanah maka tanaman jadi kurang produktif. Kerugian tersebut tentu saja akan berdampak besar terhadap kehidupan manusia.
Menghadapi permasalahan tanah yang apabila dibiarkan akan membahayakan makhluk hidup karena tanah melingkupi hajat hidup orang banyak maka muncullah ilmu tanah untuk mempelajari dan mengadakan penyelidikan mengenai tanah. Ilmu tanah mungkin merupakan ilmu yang paling awal dipikirkan oleh manusia. Dengan adanya ilmu tanah diharapkan manusia lebih mampu memahami faktor pembentuk tanah, jenis-jenis tanah, dan fungsi tanah.
Dengan pengolahan tanah yang baik dan benar dimana manusia juga memperhatikan sifat fisik, kimia, dan biologinya maka tanaman yang dihasilkan akan terus berlanjut sehingga sesuai dengan prinsip pertanian berkelanjutan, tanah tetap subur dan tanaman yang tumbuh di atasnya juga produktif. Adapun peranan tanah sebagai alat produksi pertanian antara lain :
a. Media bagi tanaman sebagai tempat berpegang dan bertumpu agar tegak berdirinya
b. Memberikan unsur-unsur mineral, baik sebagai medium pertukaran maupun sebagai tempat persediaan
c. Menyediakan air dan sebagai tempat persediaan air
d. Tanah dengan tata udara yang baik merupakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan tanaman
B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan pelaksanaan DDIT ini antara lain :
a. Sebagai sarana dalam mengaplikasikan ilmu tanah pada kehidupan nyata
b. Media bagi mahasiswa agar lebih memahami mengenai tanah
c. Media untuk mengetahui bagaimana pencandraan lahan dan hubungan antara lokasi dengan jenis tanah yang ada
d. Sebagai sarana untuk mengetahui sifat fisika dan sifat fisika tanah
e. Sebagai sarana untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah
C. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada 3 lokasi dengan rincian sebagai berikut :
Lokasi 1 : Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
a. Hari/Tanggal : Sabtu, 22 November 2008
b. Waktu : 12.00-14.00 WIB
c. Profil/Pedon : Profil 1

Lokasi 2 : Jumantono
a. Hari/Tanggal : Minggu, 23 November 2008
b. Waktu : 14.00-16.00 WIB
c. Profil/Pedon : Pedon
Lokasi 3 : Jatikuwung
a. Hari/Tanggal : Minggu, 23 November 2008
b. Waktu : 06.30-08.30 WIB
c. Profil/Pedon : Profil 1

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pencanderaan Bentang Lahan
Tanah adalah bangunan alam tersusun atas horizon-horizon yang terdiri atas bahan mineral dan organik, biasanya tidak padu, mempunyai tebal yang berbeda-beda, dan dapat dibedakan dari bahan-bahan di bawahnya dalam hal morfologi, sifat dan susunan fisik, sifat dan susunan kimia, dan sifat-sifat biologinya (Joffe, 1949).
Ada 2 macam erosi yaitu erosi geologi yang tidak merugikan karena pengikisan tanah lebih lambat daripada pembentukan tanahnya dan erosi dipercepat yang merusak karena pengikisan tanah jauh lebih cepat dari pembentukan tanahnya. Erosi yang disebabkan air membekaskan 3 macam bentuk, yaitu: erosi permukaan, erosi alur dan erosi parit (Darmawijaya, 1997).
Pengamatan kondisi lingkungan merupakan bagian dari pengamatan identifikasi tanah karena kondisi lingkungan sekitar berpengaruh terhadap perkembangan jenis tanah di lokasi pengamatan. Kondisi lingkungan juga atau lahan sekitar juga dapat menggambarkan beberapa sifat dan karakteristik dari tanah. Yang termasuk dalam kondisi lingkungan antara lain cuaca, posisi tempat, ketinggian tempat, lereng (slope), fisiografi lahan atau bentuk permukaan, banjir atau genangan, tutupan lahan, vegetasi, geologi, erosi, dan batuan permukaan.
Cuaca merupakan salah satu faktor iklim yang mempengaruhi keadaan tanah. Kondisi cuaca mempengaruhi beberapa parameter lain dalam tanah. Pengamatan cuaca dapat dilakukan dengan pengamatan secara langsung mengunakan mata sebagai panca indera. Posisi tempat yang dimaksud adalah posisi garis lintang (Latitude) dan garis bujur (Longitude). Data dapat diperoleh dengan menggunakan GPS atau penentuan dari peta. Datum yang diikuti untuk wilayah Indonesia ialah WGS 1984 dan posisi menggunakan satuan UTM (Universal Transverse Mercator). Tinggi tempat merupakan ketinggian suatu lokasi diukur dari permukaan air laut dengan mengunakan alat yang disebut altimeter yang bekerja dengan beberapa prinsip :
a. Tekanan udara (yang paling umum digunakan)
b. Magnet bumi (dengan sudut inclinasi)
c. Gelombang (ultra sonic maupun infra merah, dan lainnya)
Lereng (slope) merupakan perbandingan antara ketinggian tempat dengan jarak horizontal dan dinyatakan dengan persentase atau derajad. Pengukuran lereng menggunakan klinometer dengan cara mengukur searah kemiringan lereng. Fisiografi lahan adalah ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi dilihat dari segi genesis atau proses pembentukannya. Bentuk permukaan bumi disebut juga bentuk lahan (landform). Genangan berupa genangan sementara. Tutupan lahan merupakan apa saja yang menutupi lahan di lokasi tersebut. Vegetasi atau jenis tanaman dapat menggambarkan keadaan lingkungan yang mempunyai hubungan dengan faktor-faktor lain seperti suhu rata-rata, curah hujan, erosi, dan ketinggian tempat. Vegetasi juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses perkembangan tanah sehingga mempunyai peranan yang penting. Geologi merupakan bahan dasar penyusun bahan induk tanah. Erosi merupakan proses pemecahan dan pengikisan lapisan tanah oleh media (air, es, dan angin) yang diangkut dan diendapkan pada suatu tempat. Batuan permukaan akan mempengaruhi penggunaan dan pengelolaan lahan.
B. Profil Tanah
Profil tanah adalah urutan susunan horizon yang tampak dalam anatomi tubuh tanah. Profil Tanah tebalnya berlainan mulai dari yang setipis selaput sampai setebal 10 m. Pada umumnya tanah makin tipis mendekati kutub dan makin tebal mendekati khatulistiwa. Masing-masing horizon dibedakan horizon yang ada di atas dan di bawahnya oleh ciri-ciri yang spesifik dan genetik (Darmawijaya, 1990).
Pemadatan tanah yang secara kuantitatif dapat diukur dengan kekerasan tanah merupakan sifat tanah yang dipengaruhi oleh derajat keterlintasan pengolahan tanah. Kekerasan tanah berkaitan erat dengan laju pertumbuhan akar tanaman, makin tinggi nilai kekerasan tanah maka makin menurun laju pertumbuhan akarnya. Selain itu kekerasan tanah diduga mengurangi peredaran tanah dan memperkecil diameter perakaran tanaman tanpa olah tanah sehingga secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap serapan hara dan poduksi tanaman (Utomo, 1995).
Horison tanah adalah lapisan-lapisan tanah yang berbeda susunan fisika dan kimianya yang terletak sejajar permukaan tanah sebagai akibat dari proses perkembangan tanahsejajar (Anonim, 2008)
Proses perkembangan profil merupakan kelanjutan dari proses pencucian dari mineral hasil pelapukan batuan induk yang dapat dibedakan menjadi dua proses yaitu :
a. Proses perkembangan profil azasi
b. Proses pembentukan profil khusus
C. Sifat-Sifat Fisika Tanah
Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah.Teristimewa tekstur merupakan perbandingan relatif pasir, debu, liat atau kelompok partikel dengan ukuran lebih kecil dari kerikil (diamternya kurang dari 2 milimeter.Pada beberapa tanah, kerikil, batu dan batuan induk dari lapisan-lapisan tanah yang ada juga mempengaruhi tekstur dan mempengaruhi penggunaan tanah (Poerwowidodo, 1992).
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir, fraksi debu, dan fraksi lempung. Tekstur tanah yang baik adalah tekstur tanah geluh dimana perbandingan antara fraksi pasir, fraksi debu, dan fraksi lempung seimbang. Penetapan tekstur tanah dapat menggunakan pendekatan kualitatif di lapangan dan secara kuantitatif di laboratorium.
Struktur tanah adalah bentukan yang terjadi secara alami yang tersusun oleh partikel-partikel tanah menjadi agregat tanah sebagai akibat dari proses Pedogenesis. Apabila agregat tersebut terbentuk dengan sendirinya tanpa ada pengaruh dari luar disebut PED sedangkan agregat yang terbentuk karena pengarapan tanah disebut CLOD. Umumnya struktur tanah yang diinginkan adalah struktur remah dimana perbandingan antara zat padat dengan ruang pori kurang lebih seimbang.
Konsistensi tanah adalah derajat kekuatan tanah dari perubahan bentuk. Biasanya di lapangan dilakukan dengan cara memeras, memijit, dan memirit. Kondisi tanah terdiri dari kering, lembab, dan basah.
Warna tanah adalah salah satu sifat tanah yang dengna mudah dapat dilihat dan dapat menunjukkan sifat-sifat tanah. Warna tanah merupakan campuran dari komponen-komponen warna lain yang terjadi oleh pengaruh berbagai faktor. Urutan tanah yang menunjukkan penurunan produktivitas tanah ialah hitam, coklat, abu-abu coklat, merah, abu-abu, kuning, dan putih. Dalam survei atau penelitian tanah di lapang selalu menggunakan daftar warna dalam Munsell Soil Color Charts yang terdiri dari hue, value, dan chroma.
C. Sifat-Sifat Kimia Tanah
Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa tumbuhan dan binatang yang telah mengalami pelapukan. Kadar bahan organik tanah tidak melebihi 3 – 5 % dari bobot tanah. Walaupun jumlahnya sedikit, pengaruh bahan organik terhadap sifat–sifat tanah dan selanjutnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat nyata (Goeswono, 1998 ).
Aerasi adalah pertukaran udara yang terjadi dalam tanah. Sedangkan drainase tanah adalah kecepatan perpindahan air dari suatu bidang lahan, baik berupa run off maupun peresapan air dalam tanah. Drainase sebagai sifat tanah dapat pula diartikan sebagai frekuensi dan lamanya tanah bebas dari kejenuhan air. Perbedaan kelas drainase paling kentara terdapat dalam tanah pedosol, podzolik, dan tanah padang rumput (Darmawijaya, 1990).
Dalam membahas mengenai tata air dan udara tanah erat hubungannya dengan pembahasan mengenai penyebaran pori-pori dalam tanah. Perbedaan ukuran atau macam pori-pori akan menyebabkan pertumbuhan tanaman yang berbeda-beda pula. Pori-pori tanah dapat dibedakan pori berguna dan pori tidak berguna dalam hubungannya terhadap tanaman. Pori berguna adalah pori yang berukuran lebih dari 0,2 mikron dan mengandung air di dalamnya serta dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pori tidak berguna adalah pori yang berukuran kurang dari 0,2 mikron dan mengandung air di dalamnya tetapi air tersebut tidak dapat digunakan oleh tanaman sehinga tanaman menjadi layu (Ir.Slamet Minardi dan Ir.Sutopo dalam Dasar-Dasar Ilmu Tanah I, 1994).
Kapur (CaCO3) mampu meningkatkan pH tanah dengan menetralisir ion H+ di dalam larutan tanah. Ion OH- yang berasal dari reaksi CaCO3 dengan muatan positif pada permukaan koloid tanah mampu menetralisasi, akhirnya akan meningkatkan pH tanah. Kapur selain berpengaruh meningkatkan pH tanah juga mempercepat perombakan bahan organik (Hartati, 2002).
pH tanah menunjukkan derajat keasaman tanah atau keseimbangan antara konsentrasi H+ dan OH- dalam larutan tanah. Apabila konsentrasi H+ dalam larutan tanah lebih banyak dari OH- maka suasana larutan tanh menjadi asam, sebaliknya bila konsentrasi OH- lebih banyak dari konsentrasi H+ maka suasana tanah menjadi basa. Pada tanah pH lebih rendah dari 5,6 pada umumnya pertumbuhan tanaman menjadi terhambat akibat rendahnya ketersediaan unsur hara penting seperti fosfor dan nitrogen. Bila pH lebih rendah dari 4,0 pada umumnya terjadi kenaikan Al3+ dalam larutan tanah yang berdampak secara fisik merusak sistem perakaran, terutama akar-akar muda, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat (Anonim, 2002)

III. ALAT , BAHAN DAN CARA KERJA

Pencandraan Bentang Lahan
1. Alat
a. Klinometer
b. Altimeter
c. GPS
d. Meteran
2. Bahan
Lahan pengamatan di desa Sukasari, Jumantono, Karanganyar.
3. Cara Kerja
a. Mengamati bentuk wilayah
b. Mengukur kemirigan lahan dengan klinometer
c. Mengamati fisiografi timbulan makro, timbulan mikro, kemas muka tanah dan hidrologi tanah
d. Mengamati ada tidaknya genangan, potensi banjir dan erosi
e. Mengamati relief dan penggunaan lahan
Penyelidikan Profil Tanah
1. Alat
a. Pisau belati
b. Cangkul
c. Penggaris kertas
2. Bahan
a. Profil tanah yang masih baru dan terlindungi dari sinar matahari secara langsung
3. Cara Kerja
a. Membuat irisan tegak pada tanah
b. Mengukur jeluk atau kedalaman regolit dengan penggaris kertas
c. Menentukan ada tidaknya gleisasi.
d. Menentukan batas lapisan dengan cara menusuk-nusuk tanah dengan pisau belati atau dengan memukul-mukul tanah dengan gagang pisau belati
e. Mengamati perbedaan warna irisan tanah tersebut
f. Mengamati perbedaan yang ada pada tiap lapisan
Sifat-Sifat Fisika Tanah
1. Alat
a. Lup
b. Tissue gulung
c. MSCC
d. Pnetrometer
e. Pipet
2. Bahan
a. Tanah pada profil yang diamati
b. Aquades
3. Cara Kerja
a. Tekstur tanah
1) Mengambil sampel tanah tiap lapisan
2) Basahi tanah dengan aquades lalu pijit-pijit dengan jari
3) Menentukan tekstur tanahnya
b. Struktur tanah
a. Mengambil sampel tanah masing-masing lapisan
b. Mengamati tanah dengan lup
c. Mengamati ukuran dan derajat struktur tanah dengan cara dipijit-pijit
d. Menentukan stuktur, ukuran dan derajat tanah
c. Konsistensi tanah
a. Mengambil sampel tanah dari masing-masing lapisan
b. Menentukan konsistensi dengan cara dipijit-pijit
d. Warna tanah
1). Mengambil sampel dari masing-masing lapisan tanah
e. Menentukan warna tanah dengan mencocokan sampel pada MSCC (Munsell Soil Color Charts)
f. Uji Pnetrometer
1) Mengamati tiap- tiap lapisan
2) Menentukan daya topang tiap-tiap lapisan dengan pnetrometer.
Sifat-Sifat Kimia Tanah
1. Alat
a. Flakon
b. Kertas marga
c. pH stick
d. Pipet
e. Tisu gulung
f. Spidol
2. Bahan
a. Tanah
b. HCl 1,2N
c. H2O2 10% dan 3%
d. KCNS 10 %
e. K4FeCN6 0.5% dan KCl
Cara Kerja :
a. PH Tanah
1) Mengambil sampel dari masing-masing lapisan dan dibagi menjadi dua bagian dan dimasukkan dalam flangkon
2) Bagian pertama ditambah H2O dan bagian kedua ditambah KCl dan dikocok
3) Diamati pH masing-masing sampel dengan pH stick
b. Kandungan Bahan Organik
1) Mengambil sampel dari masing-masing lapisan
2) Menambahkan beberapa tetes H2O2 10 %
3) Mengamati reaksi percik yang terjadi

c. Aerase Dan Drainase
1) Mengambil dua bongkah tanah pada masing-masing lapisan
2) Meletakkannya dalam tissu gulung yang berbeda
3) Menetesi keduanya dengan HCl 1,2 N
4) Menutup tisu gulung dan menekan sampai cairan terperas keluar
5) Menetesi sampel tanah yang satu dengan KCNS 10 % dan sampel tanah yang lain dengan K3Fe(CN)6 0,5%
6) Melihat perubahan warna, jika dominan warna merah maka aerase dan drainase baik, jika berwarna biru maka aerase dan drainase buruk, dan jika warana merah dan biru seimbang maka drainase sedang
d. Kandungan CaCO3 ( kapur )
1) Mengambil sampel dari masing-masing lapisan
2) Menambahkan beberapa tetes HCl 10 %
3) Mengamati reaksi percik yang terjadi
e. Konkresi Mn
1) Mengambil sampel dari masing-masing lapisan
2) Menambahkan beberapa tetes H2O2 3 %
3) Mengamati reaksi percik yang terjadi

IV. HASIL PENGAMATAN

A. Lokasi 1 : Kampus
1. Deskripsi Lokasi
Daerah/Lokasi : Fakultan Pertanian, UNS
Hari/Tanggal survey : Sabtu, 22 November 2008
Nomor profil/pedon : Profil1
Surveyor : Kelompok 36
Cuaca : Partly Cloudy (PC)
Letak geografis (LS dan BT) : 07°33’36″LS dan 110°51’30,3″BT
Datum : WGS 1984
Tinggi tempat : 108 m dpl
Denah lokasi :

2. Pencanderaan Bentang Lahan
Tabel 1.1 Pencanderaan Bentang Lahan
No Deskripsi Keteranngan
1. Lereng 11% , 3 (sangat miring)
2. Arah 180° , S (Selatan)
3. Panjang lereng 15 meter
4. Fisiografi lahan X
5. Genangan 0 meter
6. Tutupan lahan G (Grass)
7. Geologi Qa
8. Erosi –
9. Tingkat erosi –
10. Batuan permukaan 1
11. Vegetasi Rumput dan Semak
Sumber: Boardlist

3. Deskripsi Profil / Pedon
Tabel 1.2 Deskripsi Profil / Pedon
No. Deskripsi Keterangan
1. Metode observasi Lubang kecil (Small Pit)
2. Jeluk Atas Bawah
Lapisan I 0 cm 10 cm
Lapisan II 10 cm 14 cm
Lapisan III 14 cm 20 cm
3. Horizon Batas Topografi
Lapisan I Diffuse (Baur) Wavy (Berombak)
Lapisan II Diffuse (Baur) Wavy (Berombak)
Lapisan III Diffuse (Baur) Wavy (Berombak)
4. Perakaran Ukuran Jumlah
Lapisan I Very Fine (Sangat Halus) 3 (Banyak)
Lapisan II – –
Lapisan III – –
Sumber : Boardlist

Gambar 1.1 Profil 1

4. Sifat Fisika Tanah
Tabel 1.3 Sifat Fisika Tanah
No. Deskripsi Keterangan
1. Tekstur, Lapisan I SC (Sandy Clay)
Lapisan II SC (Sandy Clay)
Lapisan III SCL (Sandy Clay Loam)
2. Struktur Tipe Ukuran Derajat
Lapisan I GR (Granular) VC (Very Coarse) 1 (Lemah)
Lapisan II GR (Granular) VC (Very Coarse) 2 (Sedang)
Lapisan III GR (Granular) VC (Very
Coarse) 3 (Kuat)
3. Konsistensi, Lapisan I Lembab sangat gembur
Lapisan II Lembab teguh
Lapisan III Lembab sangat teguh
4. Warna, Lapisan I 7.5 YR 2.5/3 (Very Dark Brown)
Lapisan II 7.5 YR 4/4 (Brown)
Lapisan III 7.5 YR 4/2 (Brown)
5. Redoks, Lapisan I O2 (Baik)
Lapisan II R1 (Sedang)
Lapisan III R2 (Buruk)
6. Penetrasi (kg/cm²) H V
Lapisan I 3 kg/cm² 3.5 kg/cm²
Lapisan II 3.5 kg/cm²
Lapisan III 4 kg/cm²
Sumber : Boardlist

5. Sifat Kimia Tanah
Tabel 1.4 Sifat Kimia Tanah
No. Deskripsi Keterangan
1. pH tanah H2O KCL
Lapisan I 5 (Asam) 5 (Asam)
Lapisan II 6 (Asam) 5 (Asam)
Lapisan II 6 (Asam) 8 (Basa)
2. Bahan organik,
Lapisan III ++ (Sedikit)
Lapisan II + (Sangat sedikit)
Lapisan III + (Sangat sedikit)
3. Kadar kapur, Lapisan I 0 (Tidak mengandung kapur)
Lapisan II 0 (Tidak mengandung kapur)
Lapisan III 0 (Tidak mengandung kapur)
4. Konsentrasi Jenis Ukuran Macam
Lapisan I Nodul Coarse (Kasar) C (Berlempung)
Lapisan II Nodul Coarse (Kasar) C (Berlempung)
Lapisan III Nodul Coarse (Kasar) G (Bergipsum)
Sumber : Boardlist

6. Pembahasan
A. Pencanderaan Bentang Lahan
Tanah adalah komponen lahan yang berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organic, mempunyai sifat fisika, kimia, dan biologi serta mempunyai kemampuan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Bentang alam berlokasi di Fakultan Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Lokasi terletak di 07°33’36″LS dan 110°51’30,3″BT dan terletak 107 meter di atas permukaan air laut. Besar lereng 11% dengan bentuk sangat miring. Fisiografi lahan adalah ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi dilihat dari proses pembentukannya. Bentuk lahan di kampus ialah Miscellaneous karena terbentuk akibat manusia. Fisiologi lokasi cukup bergelombang sehingga tidak terjadi banjir atau genangan sementara. Lahan sebagian besar ditutupi oleh rumput (grass) dan sisanya berupa semak (shrub). Setelah diteliti ternyata geologi atau bahan dasar penyusun bahan induk tanah di lokasi ialah Qa yang berarti tanah tersusun atas Batuan Aluvium. Batuan ini hasil aliran sungai atau gravitasi.
Fisiologi lokasi cukup bergelombang sehingga bisa dipastikan bahawa erosi yang terjadi ialah erosi permukaan (sheet erosion) dengan tingkat erosi ringan. Batuan permukaan kurang dari 0,1% dari luas permukaan dengan jarak antar batuan kecil lebih dari 8 meter dan jarak antar batuan besar sekitar 20 meter. Dengan batuan permukaan yang demikian rupa maka lahan dapat ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman berupa rumput, semak, dan pohon karena tanah sebagian besar tidak tertutup oleh batu sehingga masih dapat diolah. Vegetasi yang tumbuh beraneka ragam. Namun yang terlihat di lokasi tersebut antara lain mangga (Mangivera indica), Angsana, dan lain-lain.

B. Deskripsi Profil/Pedon
Dalam praktikum kami mengamati profil 1 yang terdiri dari lapisan I (Horizon O), lapisan II (Horizon A), dan lapisan III (Horizon E). Profil itu sendiri merupakan suatu penampang vertikal di dalam pedon yang menunjukkan susunan horizon yang terdiri dari solum tanah dan bahan induk tanah.
Pencandraan profil tanah meliputi dua hal, yaitu deskripsi lingkungan dan deskripsi profil atau pedon. Perlu diperhatikan syarat-syarat dari pembuatan profil tanah antara lain, membuat penampang melintang tanah secara vertikal pada tanah yang diusahakan alami atau belum mengalami perubahan akibat ulah manusia, kedalaman penampang ±100cm dan tidak terkena sinar matahari secara langsung, tiap kali pengamatan harus dalam keadaan baru yang dilakukan dengan cara pengeprasan dengan cangkul. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati perbedaan warna, batas yang nampak antar lapisan, kekerasan tanahnya, mendengarkan perbedaan suara dengan cara mengetuk tiap lapisan tanahnya, atau dengan cara menusuknya dengan belati. Pada profil 1 dapat dibedakan menjadi tiga lapisan yaitu lapisan I, lapisan II, dan lapisan III.
Metode yang digunakan adalah jenis dinding (wall) dengan lubang kecil (Small Pit) karena dibuat dengan ukuran kurang dari 1 x 2 meter. Jeluk atau kedalaman horizon pada lapisan I, lapisan II, dan lapisan III masing-masing ialah 10 cm, 4 cm, dan 6 cm. Pengukuran jeluk menggunakan penggaris kertas. Horizon yang terdapat pada profil 1 yang terdiri dari tiga lapisan antara lain horizon O (lapisan I), horizon A (lapisan II), dan horizon E (lapisan III). Tidak semua lapisan terdapat perakaran. Hal yang perlu diketahui bahwa salah satu faktor yang mendukung adanya perakaran dalam suatu lapisan ialah bahan organik. Di dalam bahan organik terdapat unsure hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Pada horizon O terdapat banyak perakaran, hal ini dikarenakan horizon O merupakan horizon yang terletak paling atas, terdiri dari seresah atau bahan organik segar yang belum atau sebagian telah terdekompisisi. Horizon ini berwarna gelap karena mengandung bahan organik yang tinggi. Pada horizon A tidak terdapat perakaran hal ini dikarenakan horizon A merupakan horizon yang berada di bawah horizon O yang terdiri dari tanah mineral tetapi masih dipengaruhi oleh kadar bahan organik walaupun hanya sedikit. Ciri dari horizon A ialah hilangnya seluruh atau sebagian struktur asli batuan. Begitu juga dengan horizon E, pada horizon ini tidak terdapat perakaran. Horizon E disebut juga horizon eluviasi (pencucian). Horizon ini merupakan horizon tanah mineral yang mengalami pelindian sehingga kehilangan lempung silikat, besi, dan alumunium, atau kombinasinya dan menghasilkan akumulasi debu dan pasir. Horizon ini mempunyai warna yang lebih terang dibandingkan horizon yang berada di atasnya maupun horizon yang berada di bawahnya.
C. Sifat Fisika Tanah
Fisika tanah adalah cabang dari ilmu tanah yang membahas sifat-sifat fisik tanah, pengukuran dan prediksi serta kontrol (pengaturan) proses fisika yang terjadi dalam tanah. Pengetahuan mengenai sifat fisika tanah diperlukan untuk menentukan morfologi serta seberapa besar tingkat perkembangan lapisan atau horizon dari tanah itu.
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir, fraksi debu, dan fraksi lempung. Penetapan tekstur tanah dapat dilakukan dengan rabaan dan gejala konsistensi. Dimana saat diraba, pasir akan memberikan rasa kasar, debu memberi rasa licin, dan lempung memberi rasa lengket. Lapisan I bertekstur lempung pasiran (Sandy Clay) yang dicirikan rasa licin agak kasar, membentuk bola, dalam kedaan kering susah dipijit, mudah digulung, serta melekat sekali. Lapisan II bertekstur lempung pasiran (Sandy Clay) yang dicirikan rasa licin agak kasar, membentuk bola, dalam kedaan kering susah dipijit, mudah digulung, serta melekat sekali. Lapisan III bertekstur geluh lempung pasiran (Sandy Clay Loam) yang dicirikan rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak teguh (kering), membentuk gulungan jika dipirid mudah hancur, serta melekat.
Struktur tanah adalah bentukan yang terjadi secara alami yang tersusun oleh partikel-partikel tanah membentuk agregat tanah hasil dari proses Pedogenesis. Tipe struktur tanah lapisan I ialah kersai (Granuler) dengan ciri berbidang banyak, tidak beraturan, tidak membentuk permukaan di sekeliling ped dengan ukuran sangat kasar (Very Coarse) tetapi derajat kekerasan struktur tanah lemah yang dicirikan terbentuk jika diletakkan di atas ped tanah tetapi mudah hancur ketika diremas. Tipe struktur tanah lapisan II ialah kersai (Granuler) dengan ciri berbidang banyak, tidak beraturan, tidak membentuk permukaan di sekeliling ped dengan ukuran sangat kasar (Very Coarse) dan derajat kekerasan struktur tanah sedang yang dicirikan tampak jelas strukturnya, sebagian masih utuh ketika diremas. Tipe struktur tanah lapisan III ialah kersai (Granuler) dengan ciri berbidang banyak, tidak beraturan, tidak membentuk permukaan di sekeliling ped dengan ukuran sangat kasar (Very Coarse) dan derajat kekerasan struktur tanah kuat yang dicirikan kemantapan cukup kuat, masih untuh ketika diremas.
Konsistensi adalah derajat ketahanan tanah dari perpecahan oleh tekanan yang dipengaruhi kohesi dan adhesi. Konsistensi di lapangan dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pada lapisan I konsistensi tanahnya lembab sangat gembur yang dicirikan dengan mudah hancur oleh sedikit tekanan. Pada lapisan II konsistensi tanahnya lembab teguh yang dicirikan dengan massa tanah hancur dengan tekanan sedang. Pada lapisan III konsistensi tanahnya lembab sangat teguh yang dicirikan dengan massa tanah hancur dengan tekanan yang kuat antara ibu jari dan telunjuk.
Sifat yang paling mudah diamati dari suatu tanah adalah warna dari tanah itu sendiri. Warna tanah yang gelap akan lebih banyak menyerap radiasi matahari daripada warna tanah yang lebih terang. Banyaknya radiasi tanah yang diserap oleh tanah akan mempengaruhi tingkat temperature tanah dan kelembaban tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada laju pertumbuhan tanaman. Warna lapisan I pada profil 1 coklat sangat tua (very dark brown). Warna lapisan II pada profil 1 coklat (brown). Warna lapisan III pada profil 1 coklat (brown).
Reaksi redoks (aerase dan drainase) merupakan salah satu sifat fisik tanah yang mempengaruhi kesuburan tanah. Aerase merupakan proses pertukaran udara yang terjadi di dalam tanah. Drainase adalah kecepatan perpindahan air dari suatu bidang lahan, baik berupa ran off maupun resapan. Pada lapisan I tingkat aerasi dan drainase tanah baik (O2) dan oksidatif kuat, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan menghasilkan warna merah nyata disertai hijau). Pada lapisan II tingkat aerasi dan drainase tanah sedang (R1) dan oksidatif reduksi seimbang, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan menghasilkan warna merah nyata disertai biru nyata). Pada lapisan III tingkat aerasi dan drainase tanah buruk (R2) dan reduksi kuat, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan menghasilkan warna biru nyata disertai merah jambu).
Penetrasi adalah uji kekuatan mekanik tanah khususnya daya topang statika. Alat yang digunakan untuk mengukur penetrasi disebut pnetrometer. Caranya ialah cincin pembaca daya topang digeser sampai skala nol. Setelah itu, pnetrometer ditusukkan secara tegak lurus dengan horizon hingga ujungnya masuk sampai tanda batas. Setelah dilakukan uji pnetrometer, hasil penetrasi dari masing – masing lapisan I, lapisan II, dan lapisan III ialah lapisan I merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor, lapisan II merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor, dan lapisan III merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor.
D. Sifat Kimia Tanah
Kimia tanah merupakan cabang dari ilmu tanah yang menganalisis sifat atau proses kimia yang terjadi di dalam tanah. Kimia tanah meliputi pH tanah, bahan organik, kadar kapur dalam tanah, dan konsentrasi.
pH tanah merupakan derajat keasaman tanah. Uji pH dalam tanah pada praktikum kali ini menggunakan pH stik. Setelah diadakan uji pH, maka pH pada masing – masing lapisan I, lapisan II, dan lapisan III secara berturut-turut antara lain lapisan I mempunyai pH sangat masam, lapisan II mempunyai pH masam, dan lapisan III mempunyai pH netral.
Setelah dilakukan uji pH tanah, maka dilanjutkan dengan uji kadar bahan organik dalam tanah. Antara pH tanah dengan bahan organik saling berhubungan. Semakin rendah pH tanah maka semakin tinggi kadar bahan organik di dalam tanah. Melihat hasil pH tanah dari masing-masing lapisan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kadar bahan organik pada masing-masing lapisan I, lapisan II, dan lapisan III ialah lapisan I mempunyai kandungan bahan organik yang lebih tinggi dibandingkan lapisan yang lainnya. Lapisan II mempunyai sedikit kandungan bahan organik, lapisan III juga mempunyai sedikit kandungan bahan organik.
Kadar kapur atau kalsium karbonat (CaCO3) juga bisa dikatakan sebagai indikator tingkat kesuburan tanah. Pengujian kadar kapur dilakukan dengan menggunakan larutan HCl 10 % dan H2O. Setelah dilakukan pengujian kadar kapur pada masing-masing lapisan maka diperoleh data bahwa pada lapisan I, lapisan II, dan lapisan III tidak mengandung kapur.
Konsentrasi merupakan sekumpulan bahan tanah baik yang berbentuk tertentu maupun yag berbentuk tidak beraturan. Bahan ini merupakan akumulasi bahan – bahan tertentu baik yang baru terbentuk atau yang sudah lama terbentuk hingga mengeras. Konsentrasi pada lapisan yang terdapat pada profil 1 antara lain lapisan I memiliki konsentrasi nodul, konsentrasi bahan yang tersementasi dan dapat dipisahkan dari tanah di sekitarnya. Ukurannya kasar (Coarse) karena besarnya ukuran 5-<20 mm dan mengandung lempung. Lapisan II memiliki konsentrasi nodul, konsentrasi bahan yang tersementasi dan dapat dipisahkan dari tanah di sekitarnya. Ukurannya kasar (Coarse) karena besarnya ukuran 5-<20 mm dan mengandung lempung. Lapisan III memiliki konsentrasi nodul, konsentrasi bahan yang tersementasi dan dapat dipisahkan dari tanah di sekitarnya. Ukurannya kasar (Coarse) karena besarnya ukuran 5-<20 mm dan mengandung gipsum.

7. Komprehensif
Bahan penyusun bahan induk tanah di lokasi merupakan Aluvium. Hal ini mengakibatkan tekstur lebih dominan berlempung. Geologi tanah juga mengakibatkan konsentarsi nodul pada tanah. Jarak batuan permukaan yang lebar akan berdampak pada tingkat aerase dan drainase. Proses sirkulasi udara dan kecepatan perpindahan air dari suatu lahan akan lebih baik dibandingkan tanah dengan betuan permukaan yang memiliki jarak pendek. Jenis tanah yang terdapat pada lokasi ialah Tanah Litosol.
Ciri-ciri tanah Litosol yaitu :
a. Lapisan yang tingginya kurang dari 10 cm tetapi di di bawahnya terdapat lapisan batuan.
b. Tanah dangkal di atas batuan keras
c. Perkembangan profil belum ada, umumnya karena akibat erosi yang kuat
d. Bahan induk, iklim dan ketinggian tempat beraneka ragam
e. Pada umumnya di daerah dengan topografi lereng curam

A. Lokasi 2 : Jumantono
1. Deskripsi Lokasi
Daerah/Lokasi : Kecamatan Jumantono
Hari/Tanggal survey : Minggu, 23 November 2008
Nomor profil/pedon : Profil1
Surveyor : Kelompok 36
Cuaca : OV (Overcast)
Letak geografis (LS dan BT) : 07°37'51,3"LS dan 110°56'53,2"BT
Datum : WGS 1984
Tinggi tempat : 183 m dpl
Denah lokasi :

2. Pencanderaan Bentang Lahan
Tabel 2.1 Pencanderaan Bentang Lahan
No Deskripsi Keteranngan
1. Lereng 5% , 2 (agak miring)
2. Arah 300° dari utara, BL (Barat Laut)
3. Panjang lereng 18 meter
4. Fisiografi lahan V
5. Genangan 0 meter
6. Tutupan lahan Rumput dan semak
7. Geologi QVL
8. Erosi Sheet Erosion
9. Tingkat erosi Rendah
10. Batuan permukaan 1
11. Vegetasi Rumput dan Semak
Sumber: Boardlist

3. Deskripsi Profil / Pedon
Tabel 2.2 Deskripsi Profil / Pedon
No. Deskripsi Keterangan
1. Metode observasi Lubang kecil (Small Pit)
2. Jeluk Atas Bawah
Lapisan I 0 cm 12 cm
Lapisan II 12 cm 38 cm
Lapisan III 38 cm 54 cm
Lapisan IV 54 cm 63 cm
3. Horizon Batas Topografi
Lapisan I Diffuse (Baur) Smooth (Rata)
Lapisan II Diffuse (Baur) Smooth (Rata)
Lapisan III Clear (Jelas) Wavy (Berombak)
Lapisan IV Clear (Jelas) Wavy (Berombak)
4. Perakaran Ukuran Jumlah
Lapisan I Very Fine (Sangat Halus) 3 (Banyak)
Lapisan II Very Fine (Sangat Halus) 1 (Sedikit)
Lapisan III Very Coarse (Sangat Kasar) 1 (Sedikit)
Lapisan IV Medium (Sedang) 1 (Sedikit)
Sumber : Boardlist

Gambar 2.1 Profil 1

4. Sifat Fisika Tanah
Tabel 2.3 Sifat Fisika Tanah
No. Deskripsi Keterangan
1. Tekstur, Lapisan I SiC (Silty Clay)
Lapisan II C (Clay)
Lapisan III C (Clay)
Lapisan IV C (Clay)
2 Struktur Tipe Ukuran Derajat
Lapisan I ABK (Angular blocky) F (Fine) 2 (Sedang)
Lapisan II ABK (Angular blocky) M (Medium) 2 (Sedang)
Lapisan III ABK (Angular blocky) F (Fine) 2 (Sedang)
Lapisan IV SBK (Sub angular blocky) F (Fine) 2 (Sedang)
3. Konsistensi, Lapisan I Lembab gembur
Lapisan II Lembab gembur
Lapisan III Lembab teguh
Lapisan IV Lembab teguh
4. Warna, Lapisan I 2.5 YR 3/4 (Dark Redish Brown)
Lapisan II 2.5 YR 3/3 (Dark Redish Brown)
Lapisan III 2.5 YR 4/6 (Red)
Lapisan IV 2.5 YR 4/4 (Redish Brown)
5. Redoks, Lapisan I O2 (Baik)
Lapisan II O2 (Baik)
Lapisan III O2 (Baik)
Lapisan IV O2 (Baik)
6. Penetrasi (kg/cm²) H V
Lapisan I 3.7 kg/cm² 3.6 kg/cm²
Lapisan II 2.5 kg/cm² 3.6 kg/cm²
Lapisan III 3.6 kg/cm² 3.6 kg/cm²
Lapisan IV 3.3 kg/cm² 3.6 kg/cm²
Sumber : Boardlist
5. Sifat Kimia Tanah
Tabel 2.4 Sifat Kimia Tanah
No. Deskripsi Keterangan
1. pH tanah H2O KCL
Lapisan I 5 (Asam) 6 (Asam)
Lapisan II 5 (Asam) 6 (Asam)
Lapisan III 5 (Asam) 7 (Netral)
Lapisan IV 5 (Asam) 8 (Basa)
2. Bahan Organik, Lapisan I +++ (Banyak)
Lapisan II +++ (Banyak)
Lapisan III + + (Sedikit)
Lapisan IV + (Sangat sedikit)
3. Kadar kapur, Lapisan I 0 (Tidak mengandung kapur)
Lapisan II 0 (Tidak mengandung kapur)
Lapisan III 0 (Tidak mengandung kapur)
Lapisan IV 0 (Tidak mengandung kapur)
4. Konsentrasi Jenis Ukuran Macam
Lapisan I – – –
Lapisan II Konkresi Medium (Sedang) Mn (Mangan)
Lapisan III Konkresi Fine (Halus) Mn (Mangan)
Lapisan IV Konkresi Coarse (Kasar) Mn (Mangan)
Sumber : Boardlist

6. Pembahasan
A. Pencanderaan Bentang Lahan
Tanah adalah komponen lahan yang berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organic, mempunyai sifat fisika, kimia, dan biologi serta mempunyai kemampuan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Bentang alam berlokasi di Jumantono. Lokasi terletak di 07°37'51,3"LS dan 110°56'53,2"BT dan terletak 183 meter di atas permukaan air laut. Besar lereng 5% dengan bentuk agak miring. Fisiografi lahan adalah ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi dilihat dari proses pembentukannya. Bentuk lahan di Jumantono ialah V karena merupakan endapan dari gunung berapi. Fisiologi lokasi bergelombang sehingga tidak terjadi banjir atau genangan sementara.Lahan sebagian besar ditutupi oleh rumput (grass) dan sisanya berupa semak (shrub) dan pohon. Setelah diteliti ternyata geologi atau bahan dasar penyusun bahan induk tanah di lokasi ialah QVL yang berarti tanah tersusun atas Batuan Vulkanik. Batuan ini berasal dari Gunung Lawu.
Fisiologi lokasi yang bergelombang sehingga bisa dipastikan bahawa erosi yang terjadi ialah erosi permukaan (sheet erosion) dengan tingkat erosi ringan. Batuan permukaan kurang dari 0,1% dari luas permukaan dengan jarak antar batuan kecil lebih dari 8 meter dan jarak antar batuan besar sekitar 20 meter. Dengan batuan permukaan yang semikian rupa maka lahan dapat ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman berupa rumput, semak, dan pohon karena tanah sebagian besar tidak tertutup oleh batu sehingga masih dapat diolah. Vegetasi yang tumbuh beraneka ragam. Namun yang terlihat di lokasi tersebut antara lain mangga (Mangivera indica), Jagung (Zea mays), dan lain-lain.

B. Deskripsi Profil/Pedon
Dalam praktikum kami mengamati profil 1 yang terdiri dari lapisan I (Horizon A1), lapisan II (Horizon A2), lapisan III (Horizon B1), lapisan IV (Horizon B2). Profil itu sendiri merupakan suatu penampang vertikal di dalam pedon yang menunjukkan susuna horizon yang terdiri dari solum tanah dan bahan induk tanah.
Pencandraan profil tanah meliputi dua hal, yaitu deskripsi lingkungan dan deskripsi profil atau pedon. Perlu diperhatikan syarat-syarat dari pembuatan profil tanah antara lain, membuat penampang melintang tanah secara vertikal pada tanah yang diusahakan alami atau belum mengalami perubahan akibat ulah manusia, kedalaman penampang ±100cm dan tidak terkena sinar matahari secara langsung, tiap kali pengamatan harus dalam keadaan baru yang dilakukan dengan cara pengeprasan dengan cangkul. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati perbedaan warna, batas yang nampak antar lapisan, kekerasan tanahnya, mendengarkan perbedaan suara dengan cara mengetuk tiap lapisan tanahnya, atau dengan cara menusuknya dengan belati. Pada profil 1 dapat dibedakan menjadi empat lapisan yaitu lapisan I, lapisan II, lapisan III dan lapisan IV.
Metode yang digunakan adalah jenis dinding (wall) dengan lubang kecil (Small Pit) karena dibuat dengan ukuran kurang dari 1 x 2 meter. Jeluk atau kedalaman horizon pada lapisan I, lapisan II, lapisan IV dan lapisan III masing-masing ialah 12 cm, 26 cm, 16 dan 9 cm. Pengukuran jeluk menggunakan penggaris kertas. Horizon yang terdapat pada profil 1 yang terdiri dari empat lapisan antara lain horizon A1 (lapisan I), horizon A2 (lapisan II), horizon B1 (lapisan III), dan horizon B2 (lapisan IV). Hal yang perlu diketahui bahwa salah satu faktor yang mendukung adanya perakaran dalam suatu lapisan ialah bahan organik. Di dalam bahan organik terdapat unsure hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Pada horizon A1 terdapat banyak perakaran, hal ini dikarenakan horizon A1 merupakan horizon yang berada di bawah horizon O yang terdiri dari tanah mineral tetapi masih dipengaruhi oleh kadar bahan organik walaupun hanya sedikit. Ciri dari horizon A ialah hilangnya seluruh atau sebagian struktur asli batuan. Akan tetapi pada horizon A2 terdapat sedikit perakaran. Begitu juga dengan horizon B1 dan horizon B2, pada horizon ini terdapat sedikit perakaran. Horizon B disebut juga horizon iluviasi karena terbentuk akibat proses pengendapan dari hasil pencucian horizon yang ada di atasnya. Horizon ini mengandung banyak lempung.
C. Sifat Fisika Tanah
Fisika tanah adalah cabang dari ilmu tanah yang membahas sifat-sifat fisik tanah, pengukuran dan prediksi serta kontrol (pengaturan) proses fisika yang terjadi dalam tanah. Pengetahuan mengenai sifat fisika tanah diperlukan untuk menentukan morfologi serta seberapa besar tingkat perkembangan lapisan atau horizon dari tanah itu.
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir, fraksi debu, dan fraksi lempung. Penetapan tekstur tanah dapat dilakukan dengan rabaan dan gejala konsistensi. Dimana saat diraba, pasir akan memberikan rasa kasar, debu memberi rasa licin, dan lempung memberi rasa lengket. Lapisan I bertekstur lempung debuan (Silty Clay) yang dicirikan rasa agak licin, membentuk bola, dalam keadaan kering susah dipijit, mudah digulung, serta melekat sekali. Lapisan II bertekstur lempung (Clay) yang dicirikan rasa berat, membentuk bola sempurna, bila kering sangat keras, serta sangat melekat.Lapisan III bertekstur lempung (Clay) yang dicirikan rasa berat, membentuk bola sempurna, bila kering sangat keras, serta sangat melekat. Lapisan IV bertekstur lempung (Clay) yang dicirikan rasa berat, membentuk bola sempurna, bila kering sangat keras, serta sangat melekat. Struktur tanah adalah bentukan yang terjadi secara alami yang tersusun oleh partikel-partikel tanah membentuk agregat tanah hasil dari proses Pedogenesis. Tipe struktur tanah lapisan I ialah gumpal menyudut (Angular Blocky) dengan cirri berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut lancip dengan ukuran halus (Fine) dan derajat kekerasan struktur tanah sedang yang dicirikan tampak jelas strukturnya, sebagian masih utuh ketika di remas. Tipe struktur tanah lapisan II ialah gumpal menyudut (Angular Blocky) dengan cirri berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut lancip dengan ukuran sedang (Medium) dan derajat kekerasan struktur tanah sedang yang dicirikan tampak jelas strukturnya, sebagian masih utuh ketika di remas. Tipe struktur tanah lapisan III ialah gumpal menyudut (Angular Blocky) dengan cirri berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut lancip dengan ukuran halus (Fine) dan derajat kekerasan struktur tanah sedang yang dicirikan tampak jelas strukturnya, sebagian masih utuh ketika di remas. Tipe struktur lapisan IV ialah gumpal menyudut (Angular Blocky) dengan cirri berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut lancip dengan ukuran halus (Fine) dan derajat kekerasan struktur tanah sedang yang dicirikan tampak jelas strukturnya, sebagian masih utuh ketika di remas. Konsistensi adalah derajat ketahanan tanah dari perpecahan oleh tekanan yang dipengaruhi kohesi dan adhesi. Konsistensi di lapangan dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pada lapisan I konsistensi tanahnya lembab gembur yang dicirikan dengan dengan sedikit tekanan antara ibu jari dan telunjuk dapat hancur. Pada lapisan II konsistensi tanahnya lembab gembur yang dicirikan dengan dengan sedikit tekanan antara ibu jari dan telunjuk dapat hancur. Pada lapisan III konsistensi tanahnya lembab teguh yang dicirikan dengan massa tanah hancur dengan tekanan yang sedang. Lapisan IV konsistensi tanahnya lembab teguh yang dicirikan dengan massa tanah hancur dengan tekanan yang sedang.
Sifat yang paling mudah diamati dari suatu tanah adalah warna dari tanah itu sendiri. Warna tanah yang gelap akan lebih banyak menyerap radiasi matahari daripada warna tanah yang lebih terang. Banyaknya radiasi tanah yang diserap oleh tanah akan mempengaruhi tingkat temperature tanah dan kelembaban tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada laju pertumbuhan tanaman. Warna lapisan I pada profil 1 coklat tua kemerahan (dark redish brown). Warna lapisan II pada profil 1 coklat tua kemerahan (dark redish brown). Warna lapisan III pada profil 1 merah (red). Warna pada lapisan IV coklat kemerahan (redish brown)
Reaksi redoks (aerase dan drainase) merupakan salah satu sifat fisik tanah yang mempengaruhi kesuburan tanah. Aerase merupakan proses pertukaran udara yang terjadi di dalam tanah. Drainase adalah kecepatan perpindahan air dari suatu bidang lahan, baik berupa ran off maupun resapan. Pada lapisan I tingkat aerasi dan drainase tanah baik (O2) dan oksidatif kuat, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan menghasilkan warna merah nyata disertai hijau). Pada lapisan II tingkat aerasi dan drainase tanah baik (O2) dan oksidatif kuat, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan menghasilkan warna merah nyata disertai hijau). Pada lapisan III tingkat aerasi dan drainase tanah baik (O2) dan oksidatif kuat, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan menghasilkan warna merah nyata disertai hijau). Pada lapisan IV tingkat aerase dan drainase tanah baik (O2) dan oksidatif kuat, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan menghasilkan warna merah nyata disertai hijau)
Penetrasi adalah uji kekuatan mekanik tanah khususnya daya topang statika. Alat yang digunakan untuk mengukur penetrasi disebut pnetrometer. Caranya ialah cincin pembaca daya topang digeser sampai skala nol. Setelah itu, pnetrometer ditusukkan secara tegak lurus dengan horizon hingga ujungnya masuk sampai tanda batas. Setelah dilakukan uji pnetrometer, hasil penetrasi dari masing – masing lapisan I, lapisan II, lapisan III, dan lapisan IV ialah lapisan I merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor, lapisan II merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor, dan lapisan III merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor, serta lapisan IV merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor.

D. Sifat Kimia Tanah
Kimia tanah merupakan cabang dari ilmu tanah yang menganalisis sifat atau proses kimia yang terjadi di dalam tanah. Kimia tanah meliputi pH tanah, bahan organik, kadar kapur dalam tanah, dan konsentrasi.
pH tanah merupakan derajat keasaman tanah. Uji pH dalam tanah pada praktikum kali ini menggunakan pH stik. Setelah diadakan uji pH, maka pH pada masing – masing lapisan I, lapisan II, lapisan III, dan lapisan IV secara berturut-turut antara lain lapisan I mempunyai pH masam kuat, lapisan II mempunyai pH masam kuat, lapisan III mempunyai pH masam, lapisan IV mempunyai pH agak masam.
Setelah dilakukan uji pH tanah, maka dilanjutkan dengan uji kadar bahan organik dalam tanah. Antara pH tanah dengan bahan organik saling berhubungan. Semakin rendah pH tanah maka semakin tinggi kadar bahan organik di dalam tanah. Melihat hasil pH tanah dari masing-masing lapisan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kadar bahan organik pada masing-masing lapisan I, lapisan II, dan lapisan III ialah lapisan I mempunyai banyak kandungan bahan organik. Lapisan II mempunyai banyak kandungan bahan organik, lapisan III mempunyai sedikit kandungan bahan organik, dan lapisan IV mempunyai sangat sedikit bahan organik.
Kadar kapur atau kalsium karbonat (CaCO3) juga bisa dikatakan sebagai indikator tingkat kesuburan tanah. Pengujian kadar kapur dilakukan dengan menggunakan larutan HCl 10 % dan H2O. Setelah dilakukan pengujian kadar kapur pada masing-masing lapisan maka diperoleh data bahwa pada lapisan I, lapisan II, lapisan III, dan lapisan IV tidak mengandung kapur.
Konsentrasi merupakan sekumpulan bahan tanah baik yang berbentuk tertentu maupun yag berbentuk tidak beraturan. Bahan ini merupakan akumulasi bahan – bahan tertentu baik yang baru terbentuk atau yang sudah lama terbentuk hingga mengeras. Konsentrasi pada lapisan yang terdapat pada profil 1 antara lain lapisan I tidak memiliki konsentrasi. Lapisan II memiliki konsentrasi konkresi, konsentrasi bahan yang tersementasi dan dapat dipisahkan dari tanah di sekitarnya tetapi pada bagian dalamnya mempunyai bentuk simetris menyeliputi suatu titik. Ukurannya sedang (Medium) karena besarnya ukuran 2-<5 mm dan mengandung mangan. Lapisan III memiliki konsentrasi konkresi, konsentrasi bahan yang tersementasi dan dapat dipisahkan dari tanah di sekitarnya tetapi pada bagian dalamnya mempunyai bentuk simetris menyeliputi suatu titik. Ukurannya halus (Fine) karena besarnya ukuran <2 mm dan mengandung mangan. Lapisan IV memiliki konsentrasi konkresi, konsentrasi bahan yang tersementasi dan dapat dipisahkan dari tanah di sekitarnya tetapi pada bagian dalamnya mempunyai bentuk simetris menyeliputi suatu titik. Ukurannya kasar (Coarse) karena besarnya ukuran 5-<20 mm dan mengandung mangan.
7. Komprehensif
Bahan penyusun bahan induk tanah di lokasi merupakan bahan yang berasal dari vulkanik. Hal ini mengakibatkan tekstur lebih dominan berlempung. Jarak batuan permukaan yang lebar akan berdampak pada tingkat aerase dan drainase. Proses sirkulasi udara dan kecepatan perpindahan air dari suatu lahan akan lebih baik dibandingkan tanah dengan betuan permukaan yang memiliki jarak pendek. Jenis tanah yang terdapat pada lokasi ialah Tanah Alfisol.
Ciri-ciri tanah Alfisol yaitu :
a. Tanah sangat lapuk
b. Tekstur berat, kadang-kadang lekat, struktur gumpal
c. Bahan oragnik rendah
d. Nisbah silica : seskuioksidan (SiO2 : R2O3) relative tinggi
e. pH agak masam sampai sedikit alkalis ; 6,0-7,5
f. Kejenuhan basa sedang-tinggi
g. Kadang-kadang mengandung konkresi kapur dan besi
h. Bahan induk batu kapur, batu pasir berkapur, atau bahan volkanik
i. Ketinggian tempat 0-400 m dpl
j. Iklim tropika basah dengan bulan kering nyata, curah hujan 800 – 2.500 mm/tahun
A. Lokasi 3 : Jatikuwung
1. Deskripsi Lokasi
Daerah/Lokasi : Jatikuwung
Hari/Tanggal survey : Minggu, 23 November 2008
Nomor profil/pedon : Pedon
Surveyor : Kelompok 36
Cuaca : Partly Cloudy (PC)
Letak geografis (LS dan BT) : 07°31'5,1"LS dan 110°50'43,2"BT
Datum : WGS 1984
Tinggi tempat : 161 m dpl
Denah lokasi :

2. Pencanderaan Bentang Lahan
Tabel 3.1 Pencanderaan Bentang Lahan
No Deskripsi Keteranngan
1. Lereng 12% , 3 (sangat miring)
2. Arah 310° , B (Barat)
3. Panjang lereng 24 meter
4. Fisiografi lahan U
5. Genangan 0 meter
6. Tutupan lahan G (Grass)
7. Geologi QVM
8. Erosi –
9. Tingkat erosi –
10. Batuan permukaan 1
11. Vegetasi Rumput dan Semak
Sumber: Boardlist

3. Deskripsi Profil / Pedon
Tabel 3.2 Deskripsi Profil / Pedon
No. Deskripsi Keterangan
1. Metode observasi Lubang kecil (Small Pit)
2. Jeluk Atas Bawah
Lapisan I 0 cm 28 cm
Lapisan II 28 cm 65 cm
Lapisan III 65 cm 95 cm
3. Horizon Batas Topografi
Lapisan I Clear (Jelas) Wavy (Berombak)
Lapisan II Diffuse (Baur) Wavy (Berombak)
Lapisan III Diffuse (Baur) Wavy (Berombak)
4. Perakaran Ukuran Jumlah
Lapisan I Very Fine (Sangat Halus) 2 (Sedang)
Lapisan II Very Fine (Sangat Halus) 1 (Sedikit)
Lapisan III Very Fine (Sangat Halus) 1 (Sedikit)
Sumber : Boardlist

Gambar 3.1 Pedon

4. Sifat Fisika Tanah
Tabel 3.3 Sifat Fisika Tanah
No. Deskripsi Keterangan
1. Tekstur, Lapisan I CL (Clay Loam)
Lapisan II C (Clay)
Lapisan III SiC (Silty Clay)
2. Struktur Tipe Ukuran Derajat
Lapisan I ABK (Angular blocky) VF (Very Fine) 3 (Kuat)
Lapisan II SBK (Sub angular blocky) VF (Very Fine) 2 (Sedang)
Lapisan III PL (Platy) F (Fine) 1 (Lemah)
3. Konsistensi, Lapisan I Lembab sangat teguh sekali
Lapisan II Lembab sangat teguh
Lapisan III Lembab teguh
4. Warna, Lapisan I 7.5 YR 3/1 (Very Dark Gray)
Lapisan II 5 Y 4/2 (Olive Gray)
Lapisan III 2.5 Y 6/4 (Light Yellowish Brown)
5. Redoks, Lapisan I O3 (Sangat aik)
Lapisan II O1 (Sedang)
Lapisan III O1 (Sedang)
6. Penetrasi (kg/cm²) H V
Lapisan I 2.5 kg/cm² 2.5 kg/cm²
Lapisan II 2.25 kg/cm²
Lapisan III 1.5 kg/cm²
Sumber : Boardlist

5. Sifat Kimia Tanah
Tabel 3.4 Sifat Kimia Tanah
No. Deskripsi Keterangan
1. pH tanah H2O KCL
Lapisan I 6 (Asam) 5 (Asam)
Lapisan II 6 (Asam) 6 (Asam)
Lapisan II 7 (Netral) 6 (Asam)
2. Bahan Organik, Lapisan III ++ (Sedikit)
Lapisan II + + (Sedikit)
Lapisan III 0 (Tidak ada)
3. Kadar kapur, Lapisan I 0 (Tidak mengandung kapur)
Lapisan II 0 (Tidak mengandung kapur)
Lapisan III 0 (Tidak mengandung kapur)
4. Konsentrasi Jenis Ukuran Macam
Lapisan I – – –
Lapisan II Massa Fine (Halus) Mn (Bermangan)
Lapisan III Plintit Medium (Sedang) Ir (Berbesi)
Sumber : Boardlist

6. Pembahasan
A. Pencanderaan Bentang Lahan
Tanah adalah komponen lahan yang berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organic, mempunyai sifat fisika, kimia, dan biologi serta mempunyai kemampuan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Bentang alam berlokasi diJatikuwung. Lokasi terletak di 07°31'5,1"LS dan 110°50'43,2"BT dan terletak 161 meter di atas permukaan air laut. Besar lereng 12% dengan bentuk sangat miring. Fisiografi lahan adalah ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi dilihat dari proses pembentukannya. Bentuk lahan di Jatikuwung ialah U karena terbentuk akibat hasil pengangkatan oleh gaya endogen/bumi. Fisiologi lokasi bergelombang sehingga tidak terjadi banjir atau genangan sementara.Lahan sebagian besar ditutupi oleh rumput (grass) dan sisanya berupa semak (shrub). Setelah diteliti ternyata geologi atau bahan dasar penyusun bahan induk tanah di lokasi ialah QVM yang berarti tanah tersusun atas materi yang berasal dari aktivitas gunung berapi. Batuan ini hasil materi dari Gunung Merapi.
Fisiologi lokasi cukup bergelombang sehingga bisa dipastikan bahawa erosi yang terjadi ialah erosi permukaan (sheet erosion) dengan tingkat erosi ringan. Batuan permukaan kurang dari 0,1% dari luas permukaan dengan jarak antar batuan kecil lebih dari 8 meter dan jarak antar batuan besar sekitar 20 meter. Dengan batuan permukaan yang semikian rupa maka lahan dapat ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman berupa rumput, semak, dan pohon karena tanah sebagian besar tidak tertutup oleh batu sehingga masih dapat diolah. Vegetasi yang tumbuh beraneka ragam. Namun yang terlihat di lokasi tersebut mayoritas berisi rumpu dan semak-semak.

B. Deskripsi Profil/Pedon
Dalam praktikum kami mengamati pedon yang terdiri dari lapisan I (Horizon A1), lapisan II (Horizon B1), dan lapisan III (Horizon B2). Profil itu sendiri merupakan suatu penampang vertikal di dalam pedon yang menunjukkan susuna horizon yang terdiri dari solum tanah dan bahan induk tanah.
Pencandraan profil tanah meliputi dua hal, yaitu deskripsi lingkungan dan deskripsi profil atau pedon. Perlu diperhatikan syarat-syarat dari pembuatan profil tanah antara lain, membuat penampang melintang tanah secara vertikal pada tanah yang diusahakan alami atau belum mengalami perubahan akibat ulah manusia, kedalaman penampang ±100cm dan tidak terkena sinar matahari secara langsung, tiap kali pengamatan harus dalam keadaan baru yang dilakukan dengan cara pengeprasan dengan cangkul. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati perbedaan warna, batas yang nampak antar lapisan, kekerasan tanahnya, mendengarkan perbedaan suara dengan cara mengetuk tiap lapisan tanahnya, atau dengan cara menusuknya dengan belati. Pada profil 1 dapat dibedakan menjadi tiga lapisan yaitu lapisan I, lapisan II, dan lapisan III.
Metode yang digunakan adalah jenis dinding (wall) dengan lubang kecil (Small Pit) karena dibuat dengan ukuran kurang dari 1 x 2 meter. Jeluk atau kedalaman horizon pada lapisan I, lapisan II, dan lapisan III masing-masing ialah 28 cm, 37 cm, dan 30 cm. Pengukuran jeluk menggunakan penggaris kertas. Horizon yang terdapat pada profil 1 yang terdiri dari tiga lapisan antara lain horizon A (lapisan I), horizon B1 (lapisan II), dan horizon B2 (lapisan III). Hal yang perlu diketahui bahwa salah satu faktor yang mendukung adanya perakaran dalam suatu lapisan ialah bahan organik. Di dalam bahan organik terdapat unsure hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Pada horizon A terdapat cukup banyak perakaran, hal ini dikarenakan horizon A merupakan horizon yang berada di bawah horizon O yang terdiri dari tanah mineral tetapi masih dipengaruhi oleh kadar bahan organik walaupun hanya sedikit. Ciri dari horizon A ialah hilangnya seluruh atau sebagian struktur asli batuan. Pada horizon B1 terdapat sedikit perakaran hal ini dikarenakan horizon B merupakan horizon iluviasi (pengendapan) karena horizon ini terbentuk akibat proses pengendapan hasil pencucian dari horizon di atasnya. Horizon B1 mempunyai kandungan lempung yang tinggi. Begitu juga dengan horizon B2, pada horizon B2 terdapat sedikit perakaran hal ini dikarenakan horizon B merupakan horizon iluviasi (pengendapan) karena horizon ini terbentuk akibat proses pengendapan hasil pencucian dari horizon di atasnya.
C. Sifat Fisika Tanah
Fisika tanah adalah cabang dari ilmu tanah yang membahas sifat-sifat fisik tanah, pengukuran dan prediksi serta kontrol (pengaturan) proses fisika yang terjadi dalam tanah. Pengetahuan mengenai sifat fisika tanah diperlukan untuk menentukan morfologi serta seberapa besar tingkat perkembangan lapisan atau horizon dari tanah itu.
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir, fraksi debu, dan fraksi lempung. Penetapan tekstur tanah dapat dilakukan dengan rabaan dan gejala konsistensi. Dimana saat diraba, pasir akan memberikan rasa kasar, debu memberi rasa licin, dan lempung memberi rasa lengket. Lapisan I bertekstur geluh lempungan (Clay Loam) yang dicirikan rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh (kering), membentuk gulungan jika dipirid tetapi mudah hancur, serta melekat sedang. Lapisan II bertekstur lempung (Clay) yang dicirikan rasa berat, membentuk bola sempurna, bila kering sangat keras, den sangat melekat. Lapisan III bertekstur lempung debuan (Silty clay) yang berciri rasa agak licin, membentuk bola, dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah digulung, serta melekat sekali.
Struktur tanah adalah bentukan yang terjadi secara alami yang tersusun oleh partikel-partikel tanah membentuk agregat tanah hasil dari proses Pedogenesis. Tipe struktur tanah lapisan I ialah gumpal menyudut (Angular Blocky) dengan ciri berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut lancip, dengan ukuran sangat halus (Very Fine) dan derajat kekerasan struktur tanah kuat yang dicirikan kemantapan cukup kuat, masih utuh ketika diremas. Tipe struktur tanah lapisan II ialah gumpal membulat (Sub angular Blocky) dengan ciri berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut membulat dengan ukuran sangat halus (Very Fine) dan derajat kekerasan struktur tanah sedang yang dicirikan tampak jelas strukturnya, sebagian masih utuh ketika diremas. Tipe struktur tanah lapisan III ialah lempeng (Platy) dengan ciri rata dan seperti plat horizontal dengan ukuran halus (Fine) dan derajat kekerasan struktur tanah lemah yang dicirikan terbentuk jika diletakkan pad aped tanah tetapi mudah hancur ketika diremas. Konsistensi adalah derajat ketahanan tanah dari perpecahan oleh tekanan yang dipengaruhi kohesi dan adhesi. Konsistensi di lapangan dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pada lapisan I konsistensi tanahnya lembab sangat teguh sekali yang dicirikan dengan massa tanah sangat tahan terhadap remasan kecuali dengan tekanan yang sangat kuat (dengan diinjak memakai kaki). Pada lapisan II konsistensi tanahnya lembab sangat teguh yang dicirikan dengan massa tanah hancur dengan tekanan yang kuat antara ibu jari dan telunjuk. Pada lapisan III konsistensi tanahnya lembab teguh yang dicirikan dengan massa tanah hancur dengan tekanan yang sedang.
Sifat yang paling mudah diamati dari suatu tanah adalah warna dari tanah itu sendiri. Warna tanah yang gelap akan lebih banyak menyerap radiasi matahari daripada warna tanah yang lebih terang. Banyaknya radiasi tanah yang diserap oleh tanah akan mempengaruhi tingkat temperature tanah dan kelembaban tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada laju pertumbuhan tanaman. Warna lapisan I pada pedon abu-abu sangat gelap (very dark gray). Warna lapisan II pada pedon olive gray. Warna lapisan III pada pedon light yellowish brown. Reaksi redoks (aerase dan drainase) merupakan salah satu sifat fisik tanah yang mempengaruhi kesuburan tanah. Aerase merupakan proses pertukaran udara yang terjadi di dalam tanah. Drainase adalah kecepatan perpindahan air dari suatu bidang lahan, baik berupa ran off maupun resapan. Pada lapisan I tingkat aerasi dan drainase tanah sangat baik (O3) dan oksidatif mutlak, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan hanya timbul warna merah nyata). Pada lapisan II tingkat aerasi dan drainase tanah sedang (O1) dan oksidatif reduksi seimbang, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan menghasilkan warna merah nyata disertai biru nyata). Pada lapisan III tingkat aerasi dan drainase tanah sedang (O1) dan oksidatif reduksi seimbang, hal ini dibuktikan dengan metode oksidasi dan reduksi (ketika direaksikan menghasilkan warna merah nyata disertai biru nyata). Penetrasi adalah uji kekuatan mekanik tanah khususnya daya topang statika. Alat yang digunakan untuk mengukur penetrasi disebut pnetrometer. Caranya ialah cincin pembaca daya topang digeser sampai skala nol. Setelah itu, pnetrometer ditusukkan secara tegak lurus dengan horizon hingga ujungnya masuk sampai tanda batas. Setelah dilakukan uji pnetrometer, hasil penetrasi dari masing – masing lapisan I, lapisan II, dan lapisan III ialah lapisan I merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor, lapisan II merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor, dan lapisan III merupakan tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor.
D. Sifat Kimia Tanah
Kimia tanah merupakan cabang dari ilmu tanah yang menganalisis sifat atau proses kimia yang terjadi di dalam tanah. Kimia tanah meliputi pH tanah, bahan organik, kadar kapur dalam tanah, dan konsentrasi.
pH tanah merupakan derajat keasaman tanah. Uji pH dalam tanah pada praktikum kali ini menggunakan pH stik. Setelah diadakan uji pH, maka pH pada masing – masing lapisan I, lapisan II, dan lapisan III secara berturut-turut antara lain lapisan I mempunyai pH masam kuat, lapisan II mempunyai pH agak masam, dan lapisan III mempunyai pH agak masam.
Setelah dilakukan uji pH tanah, maka dilanjutkan dengan uji kadar bahan organik dalam tanah. Antara pH tanah dengan bahan organik saling berhubungan. Semakin rendah pH tanah maka semakin tinggi kadar bahan organik di dalam tanah. Melihat hasil pH tanah dari masing-masing lapisan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kadar bahan organik pada masing-masing lapisan I, lapisan II, dan lapisan III ialah lapisan I mempunyai sedikit kandungan bahan organik. Lapisan II mempunyai sedikit kandungan bahan organik, lapisan III juga mempunyai kandungan bahan organik.
Kadar kapur atau kalsium karbonat (CaCO3) juga bisa dikatakan sebagai indikator tingkat kesuburan tanah. Pengujian kadar kapur dilakukan dengan menggunakan larutan HCl 10 % dan H2O. Setelah dilakukan pengujian kadar kapur pada masing-masing lapisan maka diperoleh data bahwa pada lapisan I, lapisan II, dan lapisan III tidak mengandung kapur.
Konsentrasi merupakan sekumpulan bahan tanah baik yang berbentuk tertentu maupun yag berbentuk tidak beraturan. Bahan ini merupakan akumulasi bahan – bahan tertentu baik yang baru terbentuk atau yang sudah lama terbentuk hingga mengeras. Konsentrasi pada lapisan yang terdapat pada pedon antara lain lapisan I tidak memiliki konsentrasi. Lapisan II memiliki konsentrasi massa, akumulasi bahan yang tidak tersementasi dan biasanya tidak dapat dipisahkan dengan tanah sekitarnya dan mengandung mangan. Ukurannya halus (Fine) karena besarnya ukuran kurang dari 2 mm dan mengandung lempung. Lapisan III memiliki konsentrasi plintit, konsentrasi tanah yang miskin bahan organic akan tetapi kaya besi. Ukurannya sedang (Medium) karena besarnya 2-<5 mm dan mengandung besi.

7. Komprehensif
Bahan penyusun bahan induk tanah di lokasi merupakan bahan vulkanik. Hal ini mengakibatkan tekstur lebih dominan berlempung. Jarak batuan permukaan yang lebar akan berdampak pada tingkat aerase dan drainase. Proses sirkulasi udara dan kecepatan perpindahan air dari suatu lahan akan lebih baik dibandingkan tanah dengan betuan permukaan yang memiliki jarak pendek. Jenis tanah yang terdapat pada lokasi ialah Vertisol.
Ciri-ciri tanah Vertisol yaitu :
a. Warna tanah kelabu tua sampai hitam
b. Kandungan bahan organic relative rendah
c. Kondisi kering timbul retak-retak cukup dalam
d. Lapisan bawah berwarna abu-abu, kekuningan, atau kebiru-biruan tergantung keadaan drainase dan bahan induk
e. Tekstur liat berat, keras bila kering dan lekat bila basah
f. pH tanah netral sampai alkalis, kadang-kadang ditemukan konkresi kapur
g. Kadang-kadang ada juga yang ber-pH masam
h. Bahan induk ; merge (marl), napal (shale) berkapur, batu kapur berliat (argilaceus), endapan aluvial tua dan bahan volkanik
i. Ketinggian tempat dari 0 – 200 m dpl
j. Iklim tropika sampai sub tropika, curah hujan 800 – 2.000 mm/tahun

V. KOMPREHENSIF

Jenis tanah antara satu tempat dengan tempat yang lain berbeda-beda. Hal ini bergantung dari faktor-faktor pembentuk tanah yaitu iklim, jasad hidup, topografi, bahan induk, dan waktu. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap tigkat kesuburan tanah. Tingkat kesuburan tanah ketiga lokasipun juga berbeda-beda. Tingkat kesuburan tanah mulai dari yang paling subur sampai yang subur pada ketiga lokasi ialah Jumantono – Fakultas Petanian Universitas Sebelas Maret Surakarta – Jatikuwung.
Berdasarkan sifat-sifat fisika tanah, tanah di lokasi Fakultas Pertanian warna tanahnya berkisar coklat, pada lokasi Jumantono warna tanahnya mengandung warna merah, sedangkan di Jatikuwung warna tanahnya cenderung terang. Tingkat konsistensi pada lokasi Fakultas Pertanian dan Jumantono pada lapisan atas gembur sedangkan pada lapisan bawah teguh. Hal ini dikarenakan pada lapisan bawah mengandung lebih banyak kandungan lempung dibandingkan lapisan tanah di atasnya. Pada lokasi Jatikuwung baik lapisan bawah maupun lapisan atasnya konsistensinya teguh, hal ini dikarenakan baik pada lapisan atas maupun lapisan bawah mengandung banyak fraksi lempung.
Berasarkan sifat-sifat kimia tanah, tanah di lokasi Fakultas Pertanian lapisan I mengandung sedikit bahan organik dan pada lapisan yang berada di bawahnya masing-masing mengandung sangat sedikit bahan organik. Pada lokasi Jumantono, lapisan I dan lapisan II mengandung banyak bahan organik, lapisan III mengandung sedikit bahan organik, dan lapisan IV mengandung sangat sedikit bahan organik. Pada lokasi Jatikuwung, lapisan I dan lapisan II mengandung sangat sedikit bahan organik sedangkan pada lapisan III tidak mengandung bahan organik.

VI. KESIMPULAN

Tanah adalah komponen lahan berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri atas bahan mineral dan bahan organik, mempunyai sifat kimia, fisik, dan biologi, serta mempunyai kemampuan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Berdasarkan sifat fisika tanah, tanah pada lokasi Fakultas Pertanian, Jaumantono, dan Jatikuwung teksturnya didominasi oleh fraksi lempung. Hasil pengamatan konsistensi tanah pada ketiga lokasi menunjukkan bahwa tanah lembab, cirinya ialah ketika diperas tidak mengeluarkan air tetapi ketika ditempelkan pada tisu, terdapat proses kapilaritas yang menyebabkan tisu sedikit basah. Hasil uji penetrasi menggunakan pnetrometer memperlihatkan tanah pada ketiga lokasi merupakan tanah yang cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor.
Berdasarkan sifat kimia tanah, pH tanah pada masing-masing lokasi berkisar masam. Tingkat kemasaman inilah yang mempengaruhi kadar bahan organik pada tanah tersebut. Setelah diadakan uji kadar kapur, baik tanah pada lokasi Fakultas Pertanian, Jaumantono, maupun Jatikuwung tidak mengandung kapur.
Jenis tanah pada lokasi Fakultas Pertanian ialah Litosol, pada lokasi Jumantono ialah Alfisol, sedangkan pada lokasi Jatikuwung ialah Vertisol.

DAFTAR PUSTAKA

Darmawijaya, I. 1997. Klasifikasi Tanah. UGM Press. Yogyakarta
____________. 1990. Klasifikasi Tanah. UGM Press. Yogyakarta
Foth, D, Henry. 1994. DDIT Edisis IV. Erlangga. Jakarta
Minardi, Slamet dan Sutopo. 2000. Dasar-Dasar Ilmu Tanah I. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Sebelas
Maret. Surakarta
http://www.faperta.ugm.ac.id
http://www.baitoutarakab.go.id
Anonim. 2007

LAMPIRAN

27 Oktober 2009 Posted by | Uncategorized | , | Tinggalkan komentar


27 Oktober 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

26 Oktober 2009 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

NOORDIN END STOP!!!

NORDIN TEWAS, SUKA CITA KAUM MUSLIMIN
DAN KESEDIHAN KAUM TERORIS KHAWARIJ

Sebagai seorang muslim yang masih berada diatas fitrahnya yang suci, sudah tentu merasakan kegembiraan ketika mendengarkan berita tentang tewasnya seseorang yang dikenal sebagai salah satu gembong teroris Khawarij di masa kini, yang gemar melakukan tindakan kejahatan dan menumpahkan darah manusia, tidak terlepas pula tertumpahnya darah-darah kaum muslimin. Namun berbeda halnya dengan seorang yang telah tertanam padanya benih-benih pemikiran khawarij, dia tentu akan merasa sedih dengan terbunuhnya salah satu dari tokoh mereka,yang selama ini dianggap “berjihad” dengan cara-caranya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menggelarinya dengan sebutan “mujahid” atau “mati syahid”.

Kaum Muslimin yang kami muliakan, termasuk diantara petunjuk didalam Islam yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam dan para sahabatnya adalah tidak menampakkan kesedihan dengan tewasnya tokoh-tokoh teroris khawarij. Bagaimana mungkin seseorang bersedih, sementara mereka dengan melakukan tindakan membabi buta tanpa mengikuti koridor syari’at Islam yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya dan melakukan berbagai tindakan teror yang menyebabkan ketakutan kaum muslimin yang hidup di dalam negeri mereka sendiri. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti seorang muslim lainnya.”
(HR.Abu Dawud (5004) dari beberapa sahabat Nabi )

Oleh karenanya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan tegas menyebut mereka kaum khawarij sebagai anjing-anjing neraka. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ
“Khawarij adalah anjing-anjing neraka.”
(HR.Ibnu Majah:173, dari Ibnu Abi Aufa radhiallahu anhu)

Demikian pula halnya para sahabat Nabi –semoga Allah meridhai mereka- tidak merasa sedih dengan meninggalnya tokoh-tokoh teroris khawarij, bahkan sebaliknya dengan menampakkan perasaan gembira dan bersyukur atas meninggalnya. Diriwayatkan dari Abu Ghalib berkata: Abu Umamah –radhiallahu anhu- melihat kepala-kepala (kaum khawarij) yang dipajang ditangga masjid Damaskus, lalu Abu Umamah berkata:
كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى من قَتَلُوهُ

“Anjing-anjing neraka, (mereka) seburuk-buruk yang terbunuh di bawah kolong langit,dan sebaik-baik yang terbunuh adalah yang mereka bunuh.”
Lalu Abu Umamah berkata: “Sekiranya aku tidak mendengar hadits ini (dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam) sekali, dua kali sampai tujuh kali, aku tidak akan memberitakannya kepada kalian.”
(HR.Tirmidzi:3000)

Perhatikanlah hadits ini yang menunjukkan betapa seringnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam memberi peringatan kepada umatnya dari bahaya kaum khawarij ini.

Demikian pula yang dilakukan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu,sebagaimana yang diriwayatkan oleh Zabban bin Shabirah Al-Hanafi bahwa ia berkata ketika menceritakan keikutsertaannya dalam perang Nahrawan dalam menumpas kaum Khawarij:
“Aku termasuk yang menemukan dzu tsadyah, lalu menyampaikan berita gembira ini kepada Ali radhiallahu anhu dan aku melihatnya sujud yang menunjukkan kegembiraannya.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf: 8424)

Yang dimaksud Dzu tsadyah adalah salah seorang dari kalangan khawarij yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Dzu tsadyah artinya yang memiliki benjolan pada bagian tangannya yang menyerupai payudara, bagian atasnya seperti puting payudara yang memiliki bulu-bulu kecil mirip kumis kucing. (Fathul Bari:12/298)

Demikianlah sikap para ulama salaf dalam menyikapi kaum teroris khawarij.Semoga Allah memelihara kita semua dari kejahatan dan makar mereka, dan semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari berbagai pemikiran dan syubhat mereka yang menyesatkan manusia dari jalan Allah Azza Wajalla. Benarlah ucapan Abul ‘Aliyah rahimahullah:

إن علي لنعمتين ما أدري أيتهما أعظم أن هداني الله للإسلام ولم يجعلني حروريا
“Sesungguhnya aku merasakan dua kenikmatan yang aku tidak mengetahui manakah diantara dua kenikmatan tersebut yang terbesar: ketika Allah memberi hidayah kepadaku untuk memeluk islam, dan tidak menjadikan aku sebagai haruri (khawarij).”
(diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf:18667)

Ditulis oleh:
Abu Karimah Askari bin Jamal
28 Ramadhan 1430 H.

sumber: http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&task=view&id=89&Itemid=2

28 September 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar